Dakwah Nabi Kepada Kaisar
Mendengar bunyi surat itu, Pembesar Romawi mulai marah, lalu menyanggah: "Surat ini tidak boleh dibaca sekarang!" dia menyeringai. "Kenapa?" tanya Kaisar. "Dia memulai dengan namanya dulu sebelum engkau. Kemudian dia memanggilmu dengan pembesar Rom, bukan Maharaja Rom!". "Tidak", sambut Kaisar, "biar surat ini dibaca untuk diketahui isinya". Surat Nabi SAW itu terus dibacakan hingga selesai, dan setelah semua pengiring-pengiring Kaisar keluar dari majlisnya, aku pun dipanggil untuk masuk.
Bersamaan dengan itu dipanggilkan Uskup yang mengetahui seluk-beluk agama mereka. Kaisar lalu memberitahu Uskup itu, dan dibacakan sekali lagi surat itu kepadanya. "Inilah yang selalu kita tunggu-tunggu, dan Nabi kita Isa sendiri telah memberitahukan kita lama dulu!" jawab Uskup itu kepada Kaisar. "Apa pendapatmu yang harus aku buat?" tanya Kaisar kepada Uskup. "Kalau engkau tanya pendapatku, aku tentu akan mempercayainya dan akan mengikut ajarannya", jawab Uskup dengan jujur. "Tetapi aku jadi serba salah", kata Kaisar, "Jika aku ikut nasihatmu, akan hilanglah kerajaanku!".
Kami pun keluar meninggalkan tempat itu. Dan kebetulan sekali, waktu itu, Abu Sufyan bin Harb sedang berada di Rom. Abu Sufyan dipanggil oleh Kaisar ke istananya dan ditanyakan tentang diri Muhammad SAW itu.
"Coba engkau beritahu kami tentang orang yang mengaku Nabi di negerimu itu?" tanya Kaisar.
"Dia seorang anak muda", jawab Abu Sufyan.
"Bagaimana kedudukannya dalam pandangan masyarakat kamu, dia mulia?".
"Tentang kedudukannya dan keturunannya, memang tiada siapa yang melebihi kedudukan dan keturunannya!" jawab Abu Sufyan jujur.
"Ini tentulah tanda-tandanya kenabian." Kaisar berbisik-bisik kepada orang-orang yang di sampingnya.
"Bagaimana bicaranya, adakah dia selalu berkata benar?"
"Benar", jawab Abu Sufyan. "Dia memang tidak pemah berkata dusta".
"Ini lagi satu tanda-tandanya kenabian!" Kaisar terus berbisik-bisik kepada orang-orang yang mengiringnya itu. "Baiklah", kata Kaisar lagi. "Orang yang rnengikutnya dari rakyatmu itu, adakah dia meninggalkan agamanya, lalu kembali semula kepadamu?"
"Tidak", jawab Abu Sufyan.
"Ini lagi satu tanda-tandanya kenabian!" kata Kaisar pula. "Adakah terjadi peperangan di antara kamu dengannya?"
"Ada!" jawab Abu Sufyan.
"Siapa yang selalu menang?"
"Kadang-kadang dia mengalahkan kita, dan kadang-kadang kita mengalahkannya", jelas Abu Sufyan.
"Ini lagi satu tanda-tanda kenabian!" kata Kaisar Romawi itu.
Berkata Dihyah Al-Kalbi ra. seterusnya: Maka aku pun dipanggil oleh Kaisar Romawi itu, seraya dia berkata kepadaku: "Sampaikanlah berita kepada pembesarmu itu, bahwa aku tahu dia memang benar Nabi", dia menunjukkan muka yang sungguh benar dalam kata-katanya. "Tetapi apa daya", katanya lagi, "aku tak dapat buat apa-apa, kerana aku tidak bersedia ditumbangkan dari kerajaanku!" Kata Dihyah Al-Kalbi ra. yang menghayati semua peristiwa ini.
Adapun sang Uskup itu pula, maka ramailah orang yang datang ke gerejanya setiap hari Ahad. Dia terus menemui mereka dan menyampaikan semua ajaran Nasrani itu. Memang itulah kerjanya setiap hari Ahad. Tetapi apabila tiba hari Ahad sesudah pertemuan itu, dia terus berdiam di rumahnya, tiada mau keluar seperti biasanya. Sesudah perkenalan hari pertama, memang aku sering datang kepadanya untuk berbicara mengenai agama Islam, dan dia terus-menerus menanyakanku tentang Nabi SAW.
Ahad berikutnya, Uskup itu terus berdiam diri, dan orang ramai merasa kecewa menunggu, namun dia tidak datang juga. Maka datanglah orang ke rumahnya menanyakan kabar, maka dia minta diuzurkan kerana sakit. Hal serupa ini berlangsung sehingga berkali-kali, sehingga orang mencurigainya. Mereka lalu mengirim utusan kepada Uskup itu, memberikan peringatan kepadanya, jika tidak mau datang juga ke gereja untuk menyampaikan ajarannya, maka mereka akan datang beramai-ramai ke rumahnya dan akan membunuhnya, kerana mereka telah menyangka, bahwa sejak datangnya si orang Arab itu ke Rum, sikap Uskup telah banyak berubah.
Uskup Romawi itu pun memanggilku datang ke rumahnya. "Ini suratku, ambillah dan serahkan kepada pembesarmu itu", pesan Uskup itu dengan hati yang tidak tenang. "Sampaikan salamku kepadanya, dan beritahukan bahwa aku bersaksi tiada Tuhan melainkan Allah, dan bahawasanya Muhammad itu adalah Utusan Allah. Katakan juga, bahwa aku beriman dengannya, mempercayainya, dan menjadi pengikutnya. Dan kaumku telah mengingkari semua kata-kata dan nasihatku, kemudian engkau ceritakanlah pula apa yang engkau saksikan itu", pesan Uskup itu kepadaku. Apabila Uskup itu enggan datang ke gereja lagi, mereka marah, lalu mereka membunuhnya. (Al-Haitsami: Majma'uz-Zawa'id 8:236-237. Abu Nu'Alm pula meriwayatkan cerita yang sama, tetapi ringkas, dalam Dalaa'ilun-Nubuwah, hal. 121.)
Abdan memberitakan dari Ibnu Ishak yang menukil dari beberapa orang yang mengetahui peristiwa ini, katanya bahwa Heraklius berkata kepada Dihyah Al-Kalbi ra. "Celaka engkau, memang demi Allah, aku tahu bahwa pembesarmu itu adalah Nabi yang diutus, dan dialah orang yang kita tunggu selama ini, dan sifatnya tersebut di dalam kitab kami. Akan tetapi, apa daya, aku bimbang aku akan ditumbangkan dari kerajaanku. Kalau tidak kerana itu, tentu aku akan mengikutnya. Coba engkau pergi kepada Uskup kami dan jelaskan tentang perkara pembesarmu itu, kerana Uskup itu lebih dihormati orang dari hal agama dan bicaranya tentu lebih diterima!".
Maka Dihyah pun mendapatkan Uskup itu dan menceritakan berita yang dibawanya itu, maka setelah didengar semua berita itu, Uskup itu berkata: "Pembesarmu itu, demi Allah, adalah seorang Nabi yang diutus, kami mengetahuinya dengan sifat-sifatnya dan namanya!" Uskup itu lalu melepaskan pakaian gerejanya, dan menukarnya dengan pakaian serba putih. Dia pun keluar di khalayak ramai sambil mengisytiharkan penyaksiannya menjadi Islam. Orang ramai pun mengerumuninya dan membunuhnya. (Al-Ishabah 2:216)
Abdullah bin Abbas Bercerita
Thabarani telah mengeluarkan dari Rib'i bin Hirasy, Sekali peristiwa telah datang Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas) ra. meminta izin menemui Mu'awiyah ra. dan beberapa orang tokoh kaum Quraisy sedang berada di sisi Mu'awiyah, dan Said bin Al-Ash duduk di sebelah kanannya. Apabila Abdullah bin Abbas masuk ke majlis Mu'awiyah itu, dia berkata kepada Said bin Al-Ash: Hai Said! Demi Allah, aku akan kemukakan beberapa masalah kepada Ibnu Abbas ini yang dapat menjadikannya serba salah untuk menjawabnya. Jawab Said: Orang seperti Ibnu Abbas ini, tidak ada apa pun yang dapat menahannya daripada menjawab pertanyaan-pertanyaanmu itu!
Setelah Ibnu Abbas ra. duduk, Mu'awiyah lalu melontarkan pertanyaannya yang pertama, katanya: "Apa pandanganmu tentang pribadi Abu Bakar?" tanya Mu'awiyah. "Moga-moga Allah merahmati Abu Bakar!" jawab Ibnu Abbas. "Itu saja?!" tanya Mu'awiyah lagi. "Tidak!" kata Ibnu Abbas, "demi Allah, dia itu sangat suka membaca Al-Quran, sangat membenci kepada kejahatan, tidak pernah membuat kekejian, selalu melarang berbuat kemungkaran, sangat ahli tentang urusan agamanya, kepada Allah amatlah takutnya, senantiasa bangun di waktu malamnya, bila siang berterusan puasanya, senantiasa membelakangi urusan dunianya, kepada rakyat terkenal adilnya, membuat makruf maksud kerjanya, senantiasa bersyukur dalam segala hal-keadaan, pagi dan petang berzikir lidahnya, dan untuk maslahat diri ditinggalkan kesemuanya. Dia senantiasa melebihi teman-temannya dalam kewara'an, dalam kesederhanaan. dalam kezuhudan, dalam kecukupan, dalam kebajikan, dalam kelengkapan, dalam kethaatan dan dalam menyesuaikan diri pada semua keadaan, maka kerana itu, mudah-mudahan Allah akan menurunkan kutukannya terhadap siapa yang membencinya hinggalah ke hari kiamat!".
"Baiklah", kata Mu'awiyah,"apa pula pendapatmu tentang Umar?". "Moga-moga Allah merahmati Abu Hafs (nama julukan Umar) itu", jawab Ibnu Abbas. "Bukankah Umar itu pembela Islam, pelindung anak-anak yatim, induknya iman, tempat bergantungnya orang-orang yang lemah dan tempat kembalinya semua orang yang beragama. Dia adalah benteng bagi sekalian ummat, tempat bermohon bagi semua rakyat. Dia berjuang menegakkan hak Allah dengan penuh tekun dan sabar, sehinggalah Allah,memenangkan agama ini kepada ramai manusia, dan membuka banyak negara yang di bawah taklukan musuhnya. Kini sebutan nama Allah tersebar pada setiap lembah dan negeri, pada setiap tanah rata dan bukit-bukit, ada setiap kota dan kampung halaman. Pada kata-kata yang keji ia selalu menjauhkan diri, pada keadaan susah dan senang ia tetap mensyukuri, tidak pernah berhenti dari mengingati Allah dan selalu menepati janji. Kerana itu, mudah-mudahan Allah akan menurunkan kemurkaannya kepada siapa yang membencinya hingga ke hari penyesalan di hari kiamat nanti!"
Mu'awiyah tidak berkata apa-apa, tetapi dia ingin menanyai Ibnu Abbas tentang Usman bin Affan pula yang datang dari sukunya sendiri, yakni Bani Umaiyah, katanya: "Sekarang, cobalah engkau berikan pandanganmu kepada Usman bin Affan pula?" kata Mu'awiyah. Ibnu Abbas ra. langsung menjawabnya, katanya: "Moga-moga Allah merahmati juga si bapak Amru itu!" kata Ibnu Abbas. "Dia adalah semulia-mulia anak cucu, yang kepada kaum keluarga suka membantu, dan dalam medan perang tidak gentar. Dia di waktu malam terus dalam keadaan bersujud, bergenang air mata bila mengingati Tuhan, siang dan malam menanggung fikiran, senantiasa bergerak ke arah sifat yang dimuliakan, senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan yang mencelakakan, demi memelihara diri dan mencari keselamatan. Dia mengeluarkan hartanya untuk membiayai bala tentera, dan membayar harga yang mahal untuk membeli sumber air untuk rakyat jelata, dan dia juga seorang yang menikahi dua puteri Nabi yang mulia. Maka moga-moga Allah menurunkan kemurkaannya ke atas siapa yang mencacinya hingga ke hari kiamat."
"Sekarang, apa pula katamu tentang Ali bin Abu Thalib?" tanya Mu'awiyah pula. "Moga-moga Allah merahmati bapak si Hasan itu", kata Ibnu Abbas. "Dia itu, demi Allah, adalah panji-panji hidayah, sarangnya taqwa, sumbemya segala akal dan kepintaran, pokok dari segala kecantikan dan kesempurnaan. Dia adalah cahaya yang bersinar di tengah kegelapan malam, selalu mengajak ke jalan yang benar dan mencari ilmu yang mendalam. Dia ahli dalam mengartikan kitab-kitab yang purba, pakar tentang pentakwilan Al-Quran yang mulia, senantiasa berpegang kepada sebab-sebab petunjuk agama, selalu membelakangi sikap yang zalim atau suka menganiaya, selalu menjauhkan diri dari jalan-jalan buruk dan binasa, suka mendampingkan diri kepada orang yang beriman yang taqwanya amat ketara. Dia adalah sebaik-baik orang yang bergamis dan menutup kepala, seutama-utama orang yang berhaji kemudian bersa'i pula.
Banyak toleransinya dalam segala perkara, nampak jelas keadilannya dalam kehakimannya di mana saja, amat bijak dalam pidato dan berbicara, tiada siapa yang dapat mengalahkannya biar datangnya dari segala penjuru alam dan dunia, hanya yang dapat mengatasinya ialah sekalian para Nabi dan Rasul yang mendapat keutamaan Tuhan, khususnya Nabi Muhammad yang terpelihara dan terutama dalam semua waktu dan zaman. Dia adalah orang yang pernah bersembahyang dengan Nabi sehingga mereka menghadapi ke arah dua kiblat, apakah ada orang lain yang dapat menandinginya? Dia telah menikahi semulia-mulia kaum perempuan (yakni Siti Fathimah binti Rasulullah), apakah ada orang yang dapat menyamainya? Kemudian dia juga ayah kepada dua cucunda Rasulullah yang sangat dikasihinya, apakah ada lagi kelebihan yang lebih tinggi daripadanya? Kedua belah biji mataku belum pernah melihat orang sepertinya, dan barangkali tidak akan dapat melihat seumpamanya hingga ke hari kiamat, hari pertemuan dengan Allah, Tuhan semesta alam. Jadi, siapa yang melaknatinya, maka turunlah laknat Allah dan laknat para hambanya ke atas orang itu hinggalah ke hari kiamat."
"Baiklah, apa katamu terhadap Thalhah dan Az-Zubair?" kata Mu'awiyah. "Moga-moga Allah merahmati keduanya", jawab Ibnu Abbas ra. "Mereka keduanya, demi Allah, adalah bersih dari tuduhan, baik dalam amalan, mereka suci dan patut disucikan, syahid dalam matinya, luas pengetahuannya.... cuma mereka tersilap, dan moga-moga Allah akan mengampuni keduanya dalam kesilapannya itu, berkat pembelaannya yang sudah terkenal dalam agama ini, dan persahabatan yang kekal dengan Nabi yang mulia, dan kerana amalan-amalan mereka yang baik yang sudah tidak perlu diperkenalkan lagi."
"Apa katamu kepada Al-Abbas itu (yakni bapa Ibnu Abbas sendiri)?" tanya Mu'awiyah. "Moga-moga Allah merahmati Abul Fadhl itu,'terang Ibnu Abbas, "dia itu bukan orang lain. Dia adik kepada ayah Rasulullah SAW dan menjadi cahaya mata orang pilihan Allah. Induk sekalian kaumnya, penghulu dari semua paman Nabinya. Pandangannya amat tajam kepada segala perkara, telaahannya amat tepat pada semua akibat. Namanya akan dikenang orang bila disebut tentang pengetahuannya, tiada siapa yang dapat menandinginya bila disebutkan tentang keutamaannya, dan bila dibicarakan tentang keturunannya, semua orang akan berundur diri kerana tidak sanggup menandingi keturunannya. Betapa tidak! Kerana dia berada di bawah naungan dan peliharaan orang yang sangat terkenal kemuliaannya pada setiap apa yang berjalan di atas muka bumi, dan beterbangan di udara yang lepas bebas, iaitu Abdul Mutthalib. Dia adalah semulia-mulia orang Quraisy yang berjalan di atas muka bumi, dan seutama-utama orang yang menunggang kenderaan..."
Sifat-Sifat Para Sahabat (2)
Dia, demi Allah, adalah kaya dalam ibaratnya, jauh pemikirannya, mengangkat kedua tangan seraya berkata-kata kepada dirinya. Pakaian yang kasar itulah yang selalu dipakainya, dan makanan yang rendah itulah yang sentiasa dimakannya. Dia tidak berbeza dengan salah seorang kami. Dia akan mengajak duduk bersamanya bila kami datang, dan sering menyahut bila kami menadah tangan. Meskipun dia terlalu akrab dengan kami, dan selalu duduk bersama-sama kami, namun tidak pernah berkata-kata dengan kami melainkan dengan penuh kehebatan. jika dia tersenyum, maka senyumannya umpama mutiara yang berkilau-kilauan. Dia selalu menghormati ahli agama, suka mendampingkan diri kepada orang miskin. Orang yang kuat tidak berharap akan terlepas dari kesalahannya, dan orang yang lemah tidak putus asa dari keadilannya.
Aku bersaksi bahwa aku telah melihatnya dalam keadaan yang sungguh mengharukan yakni ketika malam telah menabiri alam dengan kegelapannya, dan bintang-bintang menyiramkan sekitaran dengan cahayanya padahal dia masih tetap duduk di mihrab tempat sembahyangnya, tangannya terus menggenggam janggutnya, dia kelihatan sangat gelisah seperti gelisahnya orang yang menanggung perkara yang besar, dan dia menangis, seperti tangisannya seorang yang patah hati.
Telingaku masih terngiang-ngiangkan suaranya sekarang yang mengatakan:
Tuhanku! ya Tuhanku! Dia terus bermunajat kepadanya dengan mengadukan hal yang berbagai macam. Setelah itu, dia berkata pula kepada Dunia: Apakah tiada selainku yang engkau hendak perdayakan? Kenapa kepadaku engkau datang? Jauh panggang dari api! Pergilah perdayalah selain aku! Aku telah menceraikanmu. karena umurmu sangat pendek, kedudukanmu sangat hina, dan bahayamu mudah berlaku. Ah ... ah! Sangat sedikit bekalan yang di tangan, padahal pelayaran masih amat jauh, dan penuh dengan keharuan dan kedahsyatan!
Mendengar ratapan itu, Mu'awiyah tidak tertahan dirinya, dia terus menangis, dan air matanya menetes jatuh ke atas janggutnya. Dia segera mengelapnya dengan ujung pakaiannya. Orang-orang yang di majelisnya turut terharu sambil menangis. Mu'awiyah lalu berkata: "Memang benarlah apa yang engkau katakan tentang si bapak Hasan itu, moga-moga Allah merahmatinya. Tetapi, bagaimana engkau dapati dirimu dengan kehilangannya, hai Dhirar?!". Jawab Dhirar: "Kesedihanku atas kehilangannya umpama kesedihan orang yang dibunuh anaknya di hadapan matanya sendiri, air matanya tidak akan mengering, dan pilu hatinya tidak akan terlenyap". Kemudian Dhirar pun bangun dari majelis itu dan pergi meninggalkan Mu'awiyah dengan kawan-kawannya.
Cerita yang sama dikeluarkan juga oleh Ibnu Abdil Bar dari Al-Hirmazi, seorang lelaki dari suku Hamdan, yang menukil cerita itu dari Dhirar As-Shuda'i sendiri dengan ringkas. (Al-Isti'ab 5:44)
Abu Nu'aim mengeluarkan dari Qatadah, katanya: Pernah Ibnu Umar ra. ditanya: "Apakah para sahabat Nabi SAW pernah tertawa?". Jawabnya: "lya, akan tetapi iman yang bersarang di dalam hati mereka lebih memuncak dari tingginya gunung!" (Hilyatul-Auliya' 1:311)
Hannad pula telah mengeluarkan dari Said bin Umar Al-Qurasyi, bahwa Umar ra. pernah melihat satu rombongan yang datang dari negeri Yaman, yang tinggal di dalam sebuah kemah yang terbuat dari kulit, lalu dia berkata: Barangsiapa yang mau melihat contoh dari kehidupan para sahabat Rasulullah SAW, maka lihatlah kepada orang-orang ini! (Kanzul Ummal 7:165)
Al-Hakim pula telah mengeluarkan dari Abu Said Al-Maqburi, katanya: Apabila Abu Ubaidah ra. ditikam orang, dia lalu menyuruh Mu'az, katanya: Hai Mu'az! Shalatlah engkau dengan orang ramai!". Mu'az pun mengimami mereka. tidak berapa lama Abu Ubaidah ra. pun meninggal dunia. Maka Mu'az ra. pun berdiri di hadapan orang ramai berpidato: "Wahai sekalian manusia! Bertaubatlah kepada Allah dari semua dosa-dosa kamu dengan taubat nashuha! karena setiap hamba Allah yang menemui Allah dalam keadaan bertaubat dari dosa-dosanya, melainkan dia akan diampunkan Allah!".
Kemudian dia menyambung pidatonya lagi: "Wahai manusia! Sesungguhnya kamu sekalian telah kehilangan seorang tokoh, yang demi Allah, aku belum pernah melihat seorang hamba Allah sepertinya. Dia meskipun umurnya pendek, namun hatinya suci, tiada suka mengkhianati orang, sangat cinta kepada akhirat, sangat mengambil berat kepada urusan rakyat! Mohonkanlah doa sebanyaknya untuknya, dan keluarlah nanti ke tanah lapang untuk shalat ke atasnya! Demi Allah, kamu tidak bakal menemui seorang sepertinya lagi buat selama-lamanya! Kemudiab ramai manusia telah berkumpul untuk mengiringi jenazah Abu Ubaidah ra. ke tanah lapang. Mu'az ra. shalat ke atasnya bersama-sama orang ramai, kemudian mengiringi jenazahnya ke kuburan.
Mu'az bin Jabal, Amru bin Al-Ash dan Adh-Dhahhak bin Qais turut menurunkan jenazah itu ke dalam liang lahadnya, kemudian ditimbunkan tanah ke atas kubur itu. Ketika itu Mu'az bin Jabal berseru: "Hai Abu Ubaidah! Aku tetap akan memuji-mujimu, dan aku tidak berkata yang dusta, karena aku bimbang akan ditimpa kemurkaan Allah, jika aku berdusta. Hai Abu Ubaidah! Demi Allah, engkau sebenarnya tergolong orang yang banyak berzikir kepada Allah, tergolong orang yang berjalan di atas muka bumi ini dengan merendah diri, yang jika diajak bicara oleh orang-orang yang jahil (bodoh), dia akan mengatakan'selamatlah untukmu!', dan engkau juga termasuk orang yang bila bersedekah, tidak pernah boros atau kikir, bahkan senantiasa sederhana antara kedua segi itu, dan engkau demi Allah, termasuk orang yang selalu beramah-tamah, merendahkan diri, suka membelas-kasihani anak yatim dan orang miskin, dan sangat membenci orang yang berkhianat dan mengangkat diri! (Al-Mustadrak 3:264)
Sifat-Sifat Para Sahabat (1)
Tersebut pada Ibnu Jarir lagi yang meriwayatkannya dari Qatadah ra. katanya: Diberitakan kepada kami bahwa Umar bin Al-Khatthab ra. pemah membaca ayat Kuntum khaira ummatin... kemudian dia berkata kepada orang ramai: "Hai manusia! Siapa yang mau dikategorikan ke dalam golongan orang yang disebutkan ayat tadi, maka hendaklah dia memenuhi syarat-syarat Allah padanya!"(Kanzul Ummal 1:238)
Abu Nu'aim telah-mengeluarkan dari Ibnu Mas'ud ra. katanya: "Sesungguhnya Allah telah memandang pada hati para hambaNya,lalu dipilihnya Muhammad SAW dan dibangkitkanNya dengan perutusanNya, dan dilantikNya dengan pengetahuanNya untuk dijadikan Rasul. Kemudian Allah ta'ala memandang lagi pada hati manusia sesudah itu, lalu dipilihNya beberapa orang sahabat Nabi dan dijadikanNya mereka sebagai pembantu-pembantu agamaNya, dan sebagai wazir-wazir NabiNya SAW. Tegasnya, apa yang dianggap orang-orang Mukminin itu baik, maka baiklah dia. Dan apa yang dianggap orang-orang Mukminin itu buruk, maka buruklah dia dalam pandangan Allah".(Hilyatul-Auliya' 1:375)
Abu Nu'aim juga telah mengeluarkan dari Abdullah bin Umar ra. katanya: "Barangsiapa yang mau meniru, hendaklah ia meniru perjalanan orang yang sudah mati, iaitu perjalanan para sahabat Nabi Muhammad SAW, karena mereka itu adalah sebaik-baik ummat ini, dan sebersih-bersihnya hati, sedalam-dalamnya ilmu pengetahuan, dan seringan-ringannya penanggungan. Mereka itu adalah suatu kaum yang telah dipilih Allah untuk menjadi para sahabat NabiNya SAW dan bekerja untuk menyebarkan agamanya. Karena itu, hendaklah kamu mencontohi kelakuan mereka dan ikut perjalanan mereka. Mereka itulah para sahabat Nabi Muhammad SAW yang berdiri di atas jalan lurus, demi Allah yang memiliki Ka'bah!"(Hilyatul-Auliya' 1:305)
Abu Nu'aim mengeluarkan lagi dari Ibnu Mas'ud ra. katanya: "Kamulah orang yang paling banyak puasanya, paling banyak shalatnya, dan terlalu banyak ijtihadnya dari golongan sahabat Rasulullah SAW namun begitu mereka itu, yakni para sahabat adalah lebih baik dari kamu! Mereka lalu berkata: "Hai bapak Abdul Rahman! Mengapa sampai begitu? Jawab Ibnu Mas'ud: "Sebab mereka itu lebih banyak berzuhud pada dunia, dan lebih kuat keinginannya pada akhirat!" (Hilyatul-Auliya' 1:136)
Abu Nu'aim mengeluarkan lagi dari Abu Wa'il, yang mengatakan bahwa Abdullah bin Mas'ud pernah mendengar seorang lelaki berkata: Di manakah orang-orang yang berzuhud pada dunia, dan yang sangat mencintai akhirat?! Lalu dijawab oleh Abdullah: Mereka itulah Ash-habul labiyah, yang mengikat janji antara satu dengan yang lain - dan mereka itu kesemuanya sebanyak 500 orang dari kaum Muslimin - agar mereka tidak akan kembali lagi sehingga mereka sekalian pupus sampai ke akhirnya. Merekalalu mencukur kepala mereka dan terus bertempur dengan musuh, sehingga semua mereka mati, kecuali orang yang membawa berita ini! (Hiyatul-Auliya' 1: 135)
Abu Nu'aim mengeluarkan lagi dari Ibnu Umar ra. bahwa dia pemah mendengar seorang lelaki berkata: Di manakah orangorang yang berzuhud pada dunia, dan yang sangat mencintai akhirat? Ibnu Umar ra. Ialu menunjukkan makam Nabi SAW dan makam Abu Bakar dan Umar, Ialu bertanya: Apakah engkau bertanya tentang mereka ini? (Hilyatul-Auliya' 1:307)
Ibnu Abid-dunia pula mengeluarkan dari Abu Arakah, Sekali peristiwa aku bershalat dengan Ali ra. shalat Subuh, dan setelah selesai shalat, dia lalu duduk miring ke kanan, berdiam diri dan tampak pada wajahnya ada tanda susah, sehingga apabila matahari meninggi setinggi tombak dia lalu bangun bershalat dua rakaat, kemudian dia membalik-balikkan tangannya, seraya berkata: Demi Allah, aku telah melihat sendiri betapa baiknya para sahabat Rasulullah SAW itu.
Tetapi sayang sekali, tiada seorang pun sekarang yang dapat menyerupai mereka. Mereka semua berwajah pucat berambut kusut masai, berpakaian compang-camping, laksana segerombolan kambing dalam gembalaannya. Mereka menghabiskan malam dengan bersujud kepada Allah, bangun beribadat karena membaca Kitab Allah. tanda-tanda itu dapat dilihat pada dahi-dahi mereka dan tumit-tumit mereka. Bila mereka bangun pagi dan berzikir kepada Allah, mereka seolah-olahnya seperti pepohonan yang bergerak karena ditiup angin menderu, air mata mereka mengalir terus membasahi pakaian mereka.
Sayang sekali pada masa kini sudah tidak ada lagi orang yang menjejak perjalanan mereka itu, karena semua orang telah ditimpa kelalaian. Kemudian Ali ra. bangun dari tempatnya, dan kelihatan dia tidak pernah tertawa lagi selepas hari itu, sehinggalah dia dibunuh oleh Ibnu Muljam, musuh Allah yang jahat itu. (Al-Bidayah Wan-Nihayah 8:6) Berita yang sama juga diriwayatkan oleh Abu Nu'aim (Hilyatul Auliya' 1:76) dan Ad-Dinauri, Al-Askari dan Ibnu Asakir (Kanzul Ummal 8:219)
Perjalanan ke Thaif
Bukhari meriwayatkan dari Urwah, bahwa Aisyah ra. isteri Nabi SAW bertanya kepada Nabi SAW katanya: 'Adakah hari lain yang engkau rasakan lebih berat dari hari di perang Uhud?' tanya Aisyah ra. 'Ya, memang banyak perkara berat yang aku tanggung dari kaummu itu, dan yang paling berat ialah apa yang aku temui di hari Aqabah dulu itu. Aku meminta perlindungan diriku kepada putera Abdi Yalel bin Abdi Kilai, tetapi malangnya dia tidak merestui permohonanku! 'Aku pun pergi dari situ, sedang hatiku sangat sedih, dan mukaku muram sekali, aku terus berjalan dan berjalan, dan aku tidak sadar melainkan sesudah aku sampai di Qarnis-Tsa'alib. Aku pun mengangkat kepalaku, tiba-tiba aku terlihat sekumpulan awan yang telah meneduhkanku, aku lihat lagi, maka aku lihat Malaikat jibril alaihis-salam berada di situ, dia menyeruku: 'Hai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar apa yang dikatakan kaummu tadi, dan apa yang dijawabnya pula. Sekarang Allah telah mengutus kepadamu bersamaku Malaikat yang bertugas menjaga bukit-bukit ini, maka perintahkanlah dia apa yang engkau hendak dan jika engkau ingin dia menghimpitkan kedua-dua bukit Abu Qubais dan Ahmar ini ke atas mereka, niscaya dia akan melakukannya!' Dan bersamaan itu pula Malaikat penjaga bukit-bukit itu menyeru namaku, lalu memberi salam kepadaku, katanya: 'Hai Muhammad!' Malaikat itu lalu mengatakan kepadaku apa yang dikatakan oleh Malaikat Jibril AS tadi. 'Berilah aku perintahmu, jika engkau hendak aku menghimpitkan kedua bukit ini pun niscaya aku akan lakukan!' 'Jangan... jangan! Bahkan aku berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang akan menyembah Allah semata, tidak disekutukanNya dengan apa pun... !', demikian jawab Nabi SAW.
Musa bin Uqbah menyebut di dalam kitab 'Al-Maghazi' dari Ibnu Syihab katanya, bahwa Rasulullah SAW apabila pamannya, Abu Thalib, meninggal dia keluar menuju ke Tha'if dengan harapan agar penduduknya akan melindunginya di sana. Maka beliau menemui tiga pemuka Tsaqif, dan mereka itu bersaudara, yaitu: Abdi Yalel, Khubaib dan Mas'ud dari Bani Amru. Beliau menawarkan mereka untuk melindunginya serta mengadukan halnya dan apa yang dibuat oleh kaumnya terhadap dirinya sesudah kematian Abu Thalib itu, namun bukan saja mereka menolakbeliau, tetapi mereka menghalaunya dan memperlakukan apa yang tidak sewajarnya.(Fathul Bari 6:198 - dari sumber Ibnu Ishak, Shahjh Bukhari 1:458, dan berita ini dikeluarkan juga oleh Muslim dan Nasa'i).
Abu Nu'aim memberitakan dengan lebih lengkapl dari Urwah bin Az-Zubair ra. katanya: Apabila Abu Thalib meninggal, maka semakin bertambahlah penyiksaan kaum Quraisy ke atas Nabi SAW Maka beliau berangkat ke Tha'if untuk menemui suku kaum Tsaqif dengan harapan penuh, bahwa mereka akan dapat melindunginya dan mempertahankannya. Beliau menemui tiga orang dari pemuka suku kaum Tsaqif, dan mereka itu pula adalah bersaudara, yaitu: Abdi Yalel, Kbubaib dan Mas'ud, semua mereka putera-putera dari Amru, lalu beliau menawarkan dirinya untuk diberikan perlindungan, di samping beliau mengadukan perbuatan jahat kaum Quraisy terhadap dirinya, dan apa yang ditimpakan ke atas pengikut-pengikutnya. Maka berkata salah seorang dari mereka: Aku hendak mencuri kelambu Ka'bah, jika memang benar Allah mengutusmu sesuatu seperti yang engkau katakan tadi?! Yang lain pula berkata: Demi Allah, aku tidak dapat berkatakata kepadamu, walau satu kalimah sesudah pertemuan ini, sebab jika engkau benar seorang Utusan Allah, niscaya engkau menjadi orang yang tinggi kedudukannya dan besar pangkatnya, tentu tidak boleh aku berbicara lagi kepadamu?! Dan yang terakhir pula berkata: Apakah Allah sampai begitu lemah untuk mengutus orang selain engkau? Semua kata-kata pemuka Tsaqif kepada RasuluUah SAW itu tersebar dengan cepat sekali kepada suku kaumnya, lalu mereka pun berkumpul mengejek-ngejek beliau dengan kata-kata itu.
Kemudian ketika beliau hendak pergi meninggalkan Tha'if itu, mereka berbaris di tengah jalannya dua barisan, mereka mengambil batu, lalu melempar beliau, setiap beliau melangkahkan kakinya batu-batu itu mengenai semua tubuh beliau sehingga luka-luka berdarah, dan sambil mereka melempar, mereka mengejek dan mencaci. Setelah bebas dari perbuatan suku kaum Tsaqif itu, beliau terlihat sebuah perkebunan anggur yang subur di situ. Beliau berhenti di salah satu pepohonannya untuk beristirahat dan membersihkan darah yang mengalir dari kaki dan tubuhnya yang lain, sedang hatinya sungguh pilu dan menyesal atas perlakuan kaum Tha'if itu.
Tidak lama kemudian terlihatlah Utbah bin Rabi'ah dan Syaibah bin Rabi'ah yang baru sampai di situ. Beliau enggan datang menemui mereka, disebabkan permusuhan mereka terhadap Allah dan RasulNya dan penentangan mereka terhadap agama yang diutus Allah kepadanya. Tetapi Utbah dan Syaibah telah menyuruh hamba mereka yang bemama Addas untuk datang kepada beliau membawa sedikit anggur untuknya, dan Addas ini adalah seorang yang beragama kristen dari negeri Niniva (kota lama dari Iraq). Apabila Addas datang membawa sedikit anggur untuk beliau, maka beliau pun memakannya, dan sebelum itu membaca 'Bismillah!' Mendengar itu Addas keheranan, kerana tidak pernah mendengar orang membaca seperti itu sebelumnya.
'Siapa namamu?' tanya Nabi SAW 'Addas!' 'Dari mana engkau?' tanya beliau lagi. 'Dari negeri Niniva!' jawab Addas. 'Oh, dari kota Nabi yang saleh, Yunus bin Matta!' Mendengar jawaban Nabi itu, Addas menjadi lebih heran dari mana orang ini tahu tentang Nabi Yunus bin Matta? Dia tidak sabar lagi hendak tahu, sementara tuannya Utbah dan Syaibah melihat saja kelakuan hambanya yang terlihat begitu mesra dengan Nabi SAW itu. 'Dari mana engkau tahu tentang Yunus bin Matta?!' Addas keheranan. 'Dia seorang Nabi yang diutus Allah membawa agama kepada kaumnya,' jawab beliau. Beliau lalu menceritakan apa yang diketahuinya tentang Nabi Yunus AS itu, dan sudah menjadi tabiat beliau, beliau tidak pernah memperkecilkan siapa pun yang diutus Allah untuk membawa perutusannya. Mendengar semua keterangan dari Rasulullah SAW Addas semakin kuat mempercayai bahwa orang yang berkata-kata dengannya ini adalah seorang Nabi yang diutus Allah. Lalu dia pun menundukkan kepalanya kepada beliau sambil mencium kedua tapak kaki beliau yang penuh dengan darah itu.
Melihat kelakuan Addas yang terakhir ini, Utbah dan Syaibah semakin heran apa yang dibuat sang hamba itu. Apabila kembali Addas kepada mereka, mereka lalu bertanya: 'Addas! Mari ke mari!' panggil mereka. Addas datang kepada tuannya menunggu jika ada perintah yang akan disuruhnya. 'Apa yang engkau lakukan kepada orang itu tadi?' 'Tidak ada apa-apa!' jawab Addas. 'Kami lihat engkau menundukkan kepalamu kepadanya, lalu engkau menciurn kedua belah kakinya, padahal kami belum pemah melihatmu berbuat seperti itu kepada orang lain?!' Addas mendiamkan diri saja, tidak menjawab. 'Kenapa diam? Coba beritahu kami, kami ingin tahu?' pinta Utbah dan Syaibah. 'Orang itu adalah orang yang baik, dia menceritakan kepadaku tentang seorang Utusan Allah atau Nabi yang diutus kepada kaum kami, 'jawab Addas. 'Siapa namanya Nabi itu?' 'Yunus bin Matta' jawab Addas lagi. 'Lalu?' 'Dia katakan, dia juga Nabi yang diutus!'Addas berkata jujur. 'Dia Nabi?!' Utbah dan Syaibah tertawa terbahak-bahak, sedang Addas mendiamkan diri melihatkan sikap orang yang mengingkari kebenaran Allah. 'Eh, engkau bukankah kristen?' 'Benar,'jawab Addas. 'Tetaplah saja dalam kristenmu itu! Jangan tertipu oleh perkataan orang itu!' Utbah dan Syaibah mengingatkan Addas. 'Dia itu seorang penipu, tahu tidak?!' Addas terus mendiamkan dirinya . Sesudah itu, Rasuluilah SAW kembali ke Makkah dengan hati yang kecewa sekali. (Dala'ilun-Nubuwah, hal. 103)
Penderitaan Nabi SAW (4)
Berkata penyampai cerita ini, Abdullah bin Mas'ud ra.: Aku melihat perkara itu, tetapi aku tidak berdaya untuk menghalangi atau melawan kaum Quraisy itu. Aku pun bangun dan meninggalkan tempat itu dengan perasaan kesal dan sedih sekali. Kemudian aku mendengar, bahwa Fathimah, puteri Rasulullah SAW datang dan membuangkan kotoran itu dari bahu dan tengkuk beliau. Kemudian dia mendatangi mereka yang melakukan perbuatan buruk itu, sambil memaki mereka, tetapi mereka diam saja, tidak menjawab apa pun. Ketika itu Rasulullah SAW pun mengangkat kepalanya, sebagaimana beliau mengangkat kepala sesudah sempurna sujud. Apabila sudah selesai dari sembahyangnya, beliau lalu berdoa: Ya Allah! Ya Tuhanku! Balaslah kaum Quraisy itu atas penganiayaannya kepadaku! Balaslah atas Utbah, Uqbah, Abu Jahal dan Syaibah! Sekembalinya dari masjid, beliau telah ditemui di jalanan oleh Abul Bukhturi yang di tangannya memegang cambuknya.
Bila Abul Bukhturi melihat wajah Nabi SAW dia merasa tidak senang, karena dia tahu ada sesuatu yang tidak baik terjadi terhadap dirinya: 'Hai Muhammad! Mengapa engkau begini?' tegur Abul Bukhturi. 'Biarkanlah aku!' jawab Nabi SAW ' Tuhan tahu, bahwa aku tidak akan melepaskanmu sehingga engkau memberitahuku, apa yang terjadi pada dirimu terlebih dulu?!' Abul Bukhturi mendesak Nabi SAW untuk memberitahunya apa yang telah terjadi. Apabilla dilihatnya beliau masih mendiamkan diri, dia berkata lagi: 'Aku tahu ada sesuatu yang terjadi pada dirimu, sekarang beritahu!' pinta Abul Bukhturi lagi Apabila Nabi SAW melihat bahwa Abul Bukhturi tidak mau melepaskannya, melainkan sesudah beliau memberitahunya apa yang terjadi, maka beliau memberitahunya apa yang terjadi: 'Abu jahal membuat angkara!' beritahu Nabi SAW 'Abu jahal lagi? Memang sudah aku kira, apa yang dibuat kepadamu kali ini?!' tanya Abul Bukhturi lagi. 'Dia menyuruh orang meletakkan kotoran unta ke atas badanku ketika aku sedang bersujud dalam sembahyangku,' jelas Nabi SAW 'Mari ikut aku ke Ka'bah,' bujuk Abul Bukhturi.
Abul Bukhturi dan Nabi SAW pun pergi ke Ka'bah dan terus menuju ke arah tempat duduk Abu jahal. Abul Bukhturi kelihatan marah sekali. 'Hai Bapaknya si Hakam!' teriak Abul Bukhturi. 'Engkau yang menyuruh orang meletakkan kotoran unta ke atas badan Muhammad ini?' katanya dengan keras. 'Ya,' jawab Abu Jahal. 'Apa yang engkau mau?' Abul Bukhturi tidak banyak bicara, melainkan ditariknya cambuknya lalu dipukulnya kepala Abu jahal berkali-kali. Orang ramai di situ lari berhamburan, dan teman-teman Abu jahal hiruk-pikuk menyalahkan Abul Bukhturi. 'Celaka kamu!' jerit Abu Jahal memprotes, dan badannya terlihat kesakitan karena pukulan cambuk Abul Bukhturi itu.' Dia layak diperlakukan begitu, karena dia menimbulkan permusuhan di antara kita sekalian, agar terselamat pula dia dan kawan-kawannya... !' tambah Abu jahal lagi. (Majma'uz Zawa'id 6:18)
Menurut Ahmad yang meriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud ra. katanya: Aku lihat semua orang yang dijanjikan Nabi SAW akan mati itu, semuanya terbunuh di medan Badar, tiada seorang pun yang terselamat. (Al-Bidayah Wan-Nihayah 3:44)
Penderitaan Nabi SAW (3)
Di tengah mereka berbincang-bincang itu, tiba-tiba muncullah Rasulullah SAW datang dan langsung menghadap sudut Ka'bah, lalu beliau bertawaf keliling Ka'bah, dan apabila beliau berlalu di tempat kaum Quraisy itu sedang duduk, mereka melontarkan beberapa perkataan kepadanya, namun beliau hanya berdiam diri belaka. Apabila beliau bertawaf kali kedua, mereka tetap menyampaikan kata-kata mengejek, namun beliau tidak berkata apa pun. Tetapi pada tawaf keliling ketiga, bila mereka mengejek-ngejek lagi, beliau lalu berhenti seraya berkata kepada mercka: 'Hai pemuka Quraisy! Dengarlah baik-baik! Demi jiwa Muhammad yang berada di dalam genggaman Tuhan, sebenarnya aku ini mendatangi kamu untuk menyembelih kamu!' Mendengar itu, semua orang yang di situ merasa berat sekali, sehingga setiap seorang di antara mereka merasakan seolah-olah burung besar datang untuk menyambarnya, sampai ada orang yang tidak sekeras yang lain datang untuk menenangkan perasaan beliau supaya tidak mengeluarkan kata-kata yang mengancam, karena mereka sangat bimbang dari kata-katanya. 'Kembalilah sudah, wahai Abu Al-Qasim!' bujuk mereka. 'Janganlah engkau sampai berkata begitu! Sesungguhnya kami sangat bimbang dengan kata-katamu itu!' Rasuluilah SAW pun kembalilah ke rumahnya.
Kemudian pada hari besoknya, mereka datang lagi ke Hijir (Ka'bah) itu dan berbicarakan permasalahan yang sama, seperti kemarin, dan aku duduk di antara mereka mendengar pembicaraan mereka itu. 'Kamu semua cuma berani berkata saja, cuma berani mengumpat sesama sendiri saja, kemudian apabila Muhammad mengatakan sesuatu yang kamu tidak senang, kamu lalu merasa takut, akhirnya kamu membiarkannya!' kata yang satu kepada yang lain. 'Baiklah,' jawab mereka.' Kali ini kita sama-sama bertindak, bila dia datang nanti.' Dan seperti biasa Rasulullah SAW pun datang untuk bertawaf pada Ka'bah, maka tiba-tiba mereka melompat serentak menerkamnya sambil mereka mengikutinya bertawaf mereka mengancamnya: 'Engkau yang mencaci tuhan kami?' kata yang seseorang. 'Engkau yang memburuk-burukkan kepercayaan kami, bukan?' kata yang lain. Yang lain lagi dengan ancaman yang lain pula. Maka setiap diajukan satu soalan kepada Rasulullah SAW itu, setiap itulah dia mengatakan: 'Memang benar, aku mengatakan begitu!' Lantaran sudah tidak tertanggung lagi dari mendengar jawaban Nabi SAW itu, maka seorang dari mereka lalu membelitkan kain ridaknya pada leher beliau, sambil menyentakkannya dengan kuat. Untung Abu Bakar ra. berada di situ, lalu dia segera datang melerai mereka dari menyiksa Nabi SAW sambil berkata: 'Apakah kamu sekalian mau membunuh seorang yang mengatakan 'Tuhanku ialah Allah! 'diulanginya kata-kata itu kepada kaum Quraisy itu, dengan tangisan yang memilukan hati. Kemudian aku lihat kaum Quraisy itu meninggalkan tempat itu. Dan itulah suatu peristiwa sedih yang pernah aku lihat dari kaum Quraisy itu yang dilakukan terhadap Nabi SAW - demikian kata Abdullah bin Amru kepada Urwah bin Az-Zubair ra. (Majma'uz Zawa'id 6:16)
Penderitaan Nabi SAW (2)
Suatu riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dari Amru bin Al-Ash ra. katanya: Aku tidak pemah lihat kaum Quraisy yang hendak membunuh Nabi SAW seperti yang aku lihat pada suatu hari di bawah lindungan Ka'bah. Mereka bersepakat merencanakan pembunuhan beliau sedang mereka duduk di sisi Ka'bah. Apabila Rasulullah SAW datang dan bersembahyang di Maqam, lalu bangunlah Uqbah bin Abu Mu'aith menuju kepada Rasulullah SAW dan membelitkan kain ridaknya ke tengkuk beliau, lalu disentaknya dengan kuat sekali, sehingga beliau jatuh tersungkur di atas kedua lututnya. Orang ramai yang berada di situ menjerit, menyangka beliau telah mati karena cekikan keras dari Uqbah itu. Maka ketika itu segeralah Abu Bakar ra. datang dan melepaskan cekikan Uqbah dari Rasulullah SAW itu dari belakangnya, seraya berkata: Apa ini? Adakah engkau hendak membunuh orang yang mengatakan 'Tuhanku ialah Allah!' Uqbah pun segera berundur dari tempat Rasuluilah SAW itu kembali ke perkumpulan teman-temannya para pemuka Quraisy itu. Rasulullah SAW hanya bersabar saja, tidak mengatakan apa pun. Beliau lalu berdiri bersembahyang, dan sesudah selesai sembahyangnya dan ketika hendak kembali ke rumahnya, beliau berhenti sebentar di hadapan para pemuka Quraisy itu sambil berkata: 'Hai kaum Quraisy! Demi jiwa Muhammad yang berada di dalam genggaman Tuhan! Aku diutus kepada kamu ini untuk menyembelih kamu!' beliau lalu mengisyaratkan tangannya pada tenggorokannya, yakni beliau rnenjanjikan mereka bahwa mereka akan mati terbunuh. 'Ah, ini semua omong kosong!' kata Abu jahal menafikan ancaman Nabi SAW itu. 'Ingatlah kataku ini, bahwa engkau salah seorang dari yang akan terbunuh!' sambil menunjukkan jarinya ke muka Abu jahal. (Kanzul Ummal 2:327)
Penderitaan Nabi SAW (1)
Apabila beliau tiba di rumah, datang salah seorang puterinya, lalu membersihkan muka beliau dari tanah itu sambil menangis sedih melihat ayahnya diperlakukan orang seperti itu. Maka berkatalah Rasulullah SAW kepada puterinya itu: 'Wahai puteriku! Jangan engkau menangis begitu, Allah akan melindungi ayahmu!' beliau membujuk puterinya itu.
Beliau pernah berkata: Sebelum ini memang kaum Quraisy tidak berani membuat sesuatu seperti ini kepadaku, sehinggalah selepas Abu Thalib meninggal dunia, mulailah mereka menggangguku dan mengacau ketenteramanku. Dalam riwayat yang lain, beliau berkata kepadanya karena menyesali perbuatan jahat kaum Quraisy itu: Wahai paman! Alangkah segeranya mereka menggangguku sesudah engkau hilang dari mataku!
(Hilyatul Auliya 8:308; Al-Bidayah Wan-Nihayah 3:134)
Thabarani telah memberitakan dari Al-Harits bin Al-Harits yang menceritakan peristiwa ini, katanya: Apabila aku melihat orang ramai berkumpul di situ, aku pun tergesa-gesa datang ke situ, menarik tangan ayahku yang menuntunku ketika itu, lalu aku bertanya kepada ayahku: 'Apa sebab orang ramai berkumpul di sini, ayah?' 'Mereka itu berkumpul untuk mengganggu si pemuda Quraisy yang menukar agama nenek-moyangnya!' jawab ayahku. Kami pun berhenti di situ melihat apa yang terjadi. Aku lihat Rasulullah SAW mengajak orang ramai untuk mengesakan Allah azzawajaila dan mempercayai dirinya sebagai Utusan Allah, tetapi aku lihat orang ramai mengejek-ngejek seruannya itu dan mengganggunya dengan berbagai cara sehinggalah sampai waktu tengah hari, maka mulailah orang bubar dari situ.
Kemudian aku lihat seorang wanita datang kepada beliau membawa air dan sehelai kain, lalu beliau menyambut tempat air itu dan minum darinya. Kemudian beliau mengambil wudhuk dari air itu, sedang wanita itu menuang air untuknya, dan ketika itu agak terbuka sedikit pangkal dada wanita itu. Sesudah selesai berwudhuk, beliau lalu mengangkat kepalanya seraya berkata kepada wanita itu: Puteriku! lain kali tutup rapat semua dadamu, dan jangan bimbang tentang ayahmu! Ada orang bertanya: Siapa dia wanita itu? jawab mereka: Itu Zainab, puterinya - radhiallahu anha.
(Majma'uz-Zawa'id 6:21)
Dalam riwayat yang sama dari Manbat Al-Azdi, katanya: Pernah aku melihat Rasulullah SAW di zaman jahiliah, sedang beliau menyeru orang kepada Islam, katanya: 'Wahai manusia sekaliani Ucapkanlah 'Laa llaaha lliallaah!' nanti kamu akan terselamat!' beliau menyeru berkali-kali kepada siapa saja yang beliau temui. Malangnya aku lihat, ada orang yang meludahi mukanya, ada yang melempar tanah dan kerikil ke mukanya, ada yang mencaci-makinya, sehingga ke waktu tengah hari.
Kemudian aku lihat ada seorang wanita datang kepadanya membawa sebuah kendi air, maka beliau lalu membasuh wajahnya dan tangannya seraya menenangkan perasaan wanita itu dengan berkata: Hai puteriku! Janganlah engkau bimbangkan ayahmu untuk diculik dan dibunuh ... ! Berkata Manbat: Aku bertanya: Siapa wanita itu? Jawab orangorang di situ: Dia itu Zainab, puteri Rasuluilah SAW dan wajahnya sungguh cantik.
(Majma'uz Zawa'id 6:21)
Hijab (Tabir/Purdah) Isteri-Isteri Nabi SAW
"Hai orang-orang yang beriman! janganlah kamu memasuki rumah Nabi kecuali kamu diizinkan makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang, maka masuklah dan jika kamu selesai makan keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi, lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruhmu keluar). (QS. 33:53)
Dan aku berumur 15 tahun pada waktu itu.
Menurut ibnu Abbas, Ayat tentang hijab istri-istri Rasulullah SAW diturunkan ketika Umar ra. sedang makan bersama Nabi SAW. lalu tangannya menyentuh tangan salah seorang istri Nabi SAW, maka ayat tentang hijab diturunkan. Orang-orang bertanya kepada Zuhri, "Siapakah yang biasa mengunjungi para istri Nabi?" Dia menjawab, "Setiap orang yang mempunyai hubungan keturunan atau sesusuan yang menghalangi pernikahan". Ditanyakan, "Bagaimana dengan orang-orang lain?" Dia menjawab, "Mereka harus menyelubungi diri dari mereka. Mereka harus berbicara dari balik tabir. Dan tabirnya hanya selapis". Pernah juga Ummu Salamah dan Maimunah sedang bersama Nabi SAW, tiba-tiba lbnu Ummi Maktum masuk. Peristiwa itu terjadi setelah hijab diturunkan. Nabi SAW berkata kepada istri-istrinya, "Selubungilah diri kalian darinya." lstrinya bertanya, "Ya Rasulullah SAW, bukankah dia buta?" Beliau SAW menjawab, "Apakah kalian juga buta? Tidakkah kalian melihatnya?"
KISAH PARA SAHABAT
Perjalanan Nabi Muhammad s.a.w. ke Taif
Selama sembilan tahun selepas perlantikan Nabi Muhammad s.a.w sebagai Pesuruh Allah s.w.t., Nabi Muhammad s.a.w telah menjalankan dakwah dikalangan kaumnya sendiri disekitar kota Mekah untuk memimpin dan memperbaiki keadaan hidup mereka.Segelintir manusia sahaja yang telah memeluk agama Islam ataupun yang bersimpati dengan Baginda s.a.w., yang lainnya mencuba dengan sedaya upaya untuk mengganggu dan menghalang Baginda s.a.w dan pengikut-pengikutnya. Diantara mereka yang bersimpati dengan perjuangan Baginda s.a.w termasuk Abu Talib bapa saudara Baginda s.a.w sendiri. Sungguhpun begitu Abu Talib tidak memeluk agama Islam.
Berikutan dengan kematian Abu Talib, pihak Khuraish berasa bebas untuk memperhebatkan gangguan dan penentangan mereka terhadap Baginda s.a.w. Di Taif, bandar yang kedua terbesar di Hijaz, terdapat Bani Thafiq suatu puak yang sangat kuat dan besar bilangan ahlinya. Nabi Muhammad s.a.w. berlepas keTaif dengan harapan ia dapat mempengaruhi kaum Bani Thafiq untuk menerima Islam dan dengan demikian memperolehi perlindungan bagi pemeluk-pemeluk agama Islam dari gangguan puak Khuraish. Baginda s.a.w juga bercita-cita hendak menjadikan Taif markas kegiatan-kegiatan dakwah Baginda s.a.w. Sebaik-baik sahaja Baginda s.a.w tiba disana, Baginda s.a.w telah mengunjungi tiga orang pemuka Bani Thafiq secara berasingan dan menyampaikan kepada mereka risalah Allah s.w.t. Bukan sahaja mereka tidak mahu menerima ajaran Allah s.w.t. bahkan enggan mendengar apa yang dikemukakan oleh Baginda s.a.w kepada mereka. Baginda s.a.w telah dilayani secara kasar dan sungguh-sungguh biadap. Kekasaran mereka sungguh bertentangan dengan semangat memuliakan dan menghormati yang telah menjadi sebahagian daripada cara hidup bangsa Arab. Dengan terus terang mereka mengatakan yang mereka tidak suka Baginda s.a.w. tinggal ditempat mereka. Baginda s.a.w. berharap yang kedatangan Baginda s.a.w akan disambut dengan sopan santun, diiringi dengan kata-kata yang lemah lembut. Sebaliknya Baginda s.a.w telah dilempari dengan kata-kata yang kasar.
Kata seorang daripada pemuka-pemuka tadi dengan penuh ejekan: "Hoi,benarkah yang Allah s.w.t. telah melantik kamu menjadi PesuruhNya?"Kata seorang lagi sambil ketawa: "Tidak bolehkah Allah memilih manusia selain dari engkau untuk menjadi PesuruhNya?"Yang ketiga pula melempar kata-kata hina yang bunyinya demikian: "Kalau engkau benar-benar seorang Nabi, aku tidak ingin bercakap-cakap dengan engkau kerana perbuatan yang demikian akan mendatangkan bencana kepada diriku.Sebaliknya jika kamu seorang pendusta,tidak guna aku bercakap-cakap dengan engkau."
Dalam menghadapi penentangan yang sebegini hebat, ketabahan dan kecekalan hati yang merupakan sifat-sifat semulajadi Nabi Muhammad s.a.w. tidak menyebabkan Baginda s.a.w. berasa hampa dan gagal barang sedikit jua pun. Selepas meninggalkan pemuka-pemuka Banu Thafiq tadi, Baginda s.a.w cuba menghampiri rakyat biasa Disini juga Baginda s.a.w menemui kegagalan. Mereka menyuruh Baginda s.a.w keluar dalam Taif. Apabila Baginda s.a.w menyedari yang usahaBaginda s.a.w tidak mendatangkan hasil yang diingini, Baginda s.a.w pun membuat keputusan hendak menginggalkan kota itu. Tetapi mereka tidak membiarkan Baginda s.a.w keluar dari Taif secara aman. Mereka melepaskan kacang-kacang hantu mereka supaya mengusik,mengejek,mengacau dan melemparinya dengan batu. Pelemparan batu yang dilakukan keatasBaginda s.a.w itu sedemikian rupa hingga badan Baginda s.a.w berdarah akibat luka-luka. Apabila Baginda s.a.w berada agak jauh dari kota Taif,Baginda s.a.w pun berdoa kepada Baginda s.a.w. yang bermaksud:
" Wahai Tuhanku, kepada Engkau aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya-upayaku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan yang Maha Rahim kepada sesiapa Engkau menyerahkan daku?Kepada musuh yang akan menerkamkan aku ataukah kepada keluarga yang engkau berikan kepadanya uruskanku, tidak ada keberatan bagiku asal aku tetap dalam keredzaanMu. Dalam pada itu afiatMu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya mukaMu yang mulia yang menyinari segala langit dan menerangi segala yang gelap dan atasnyalah teratur segala urusan dunia dan akirat, dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahanMu atau dari Engkau turun atasku azabMu kepada Engkaulah aku adukan hal ku sehingga Engkau redza. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Engkau"
Demikianlah sedihnya doa yang dihadapi kepada Allah s.w.t. oleh Baginda s.a.w sehingga Allah s.w.t. mengutuskan Malaikat Jibrail buat menemui Baginda s.a.w. Setibanya dihadapan Nabi Muhammad s.a.w. diapun memberi salam seraya berkata:" Allah s.w.t.. mengetahui apa yang telah berlaku diantara kamu dan orang-orang ini. Allah s.w.t. telah menyediakan malaikat digunung ganang disini khas untuk menjalankan sebarang perintah kamu."
Sambil berkata demikian Jibrail menghadapkan malaikat itu dimuka Baginda s.a.w Kata Malaikat ini:"Wahai Rasulullah, saya bersiap sedia untuk menjalankan perintah Tuan. Kalau dikehendaki, saya sanggup menyebabkan gunung-gunung disebelah menyebelah kota ini berlanggaran sehingga penduduk-penduduk dikedua-dua belah mati tertindih. Kalau tidak, Tuan cadangkan apa saja hukuman yang selayaknya diterima oleh orang-orang ini."
Mendengar janji-janji Malaikat itu, Nabi Muhammad s.a.w. yang penuh dengan sifat rahim dan belas kasihan pun berkata:"Walaupun orang-orang ini tidak menerima Islam, saya harap dengan kehendak Allah s.w.t., yang anak-anak mereka, pada satu masa nanti, akan menyembah Allah s.w.t.. dan berbakti kepadaNya."
Sekarang perhatikanlah tauladan mulia dan suci murni yang telah dipertunjukkan oleh Baginda s.a.w. Kita semua mengakui yang kita menjadi pengikut-pengikutNya, tetapi dalam urusan hidup kita sehari-sehari,apabila cadangan kita ditolak atau tidak dipersetujui maka kita dengan lekasnya melemparkan maki hamun dan terkadang-kadang bercita-cita hendak membalas dendam terhadap mereka yang tidak bersetuju dengan kita.Sebagai pengikut-pengikutnya kita hendahlah mencontohi Baginda s.a.w. Selepas menerima penghinaa ditangan penduduk-penduduk Kota Taif, Baginda s.a.w hanya berdoa. Baginda s.a.w. tidak memarahi mereka,tidak mengutuk mereka dan tidak mengambil sebarang tindakan balas walaupun diberi kesempatan sebaik-baiknya untuk membuat demikian.
KESYAHIDAN ANAS BIN NADHR
Anas bin Nadhr ialah salah seorang daripada sahabat-sahabat Nabi Muhammad s.a.w. yang tidak mengambil bahagian dalam peperangan Badar.Dia berasa kesal kerana tidak menyertai peperangan tersebut. Oleh hal yang demikian dia senantiasa menanti-nanti peluang untuk menyertai peperangan untuk menebuskan apa yang dianggapnya suatu kerugian bagi dirinya. Kesempatan yang dinanti-nantinya itupun tibalah apabila berlaku perang Uhud pada tahun yang berikutnya. Anas pun dengan serta merta menyertai tentera Muslimin dengan semangat kejihadan yang tulin maju kemedan pertempuran. Sungguhpun bala tentera yang dihadapi mereka berkali-kali ganda banyaknya namun tentera Muslimin sedang mengatasi pihak musuh. Tiba-tiba berlaku suatu kesilapan.
Nabi Muhammad s.a.w. telah menghantar sepasukan pemanah-pemanah yang terdiri daripada 50 orang untuk menguasai tentera berkuda pihak musuh yang mungkin menyerang tentera Muslimin dari belakang. Mereka diperintahkan supaya menetap diatas sebuah bukit dibelakang tentera Muslimin selagi mereka tidak menerima arahan daripada Nabi Muhammad s.a.w. sendiri menyuruh mereka berundur dari situ. Tetapi mereka ini telah mengingkari arahan Baginda s.a.w. Apabila mereka lihat askar-askar musuh lari lintang pikang, diburu oleh Mujahid-Mujahid Islam, mereka menyangka yang kemenangan telah pun tercapai lantas meninggalkan tempat mereka sambil berkejar-kejaran untuk mendapatkan harta rampasan. Yang tinggal diatas bukit itu hanyalah ketua mereka dan beberapa orang yang masih taat. Apabila dilihat oleh pemimpin tentera mushrikin yang bukit itu telah terdedah, dia pun mengerah pasukannya menyebu dan membunuh tentera panah Muslimin yang masih bertahan diatasnya dan melancarkan serangan balas terhadap tentera muslimin dari belakang ketika mereka sedang asyik mengumpulkan tentera rampasan.Dalam keadaan kelam kabut inilah Anas terpandang kepada Saad bin Maaz yang sedang melalui hadapannya. Dia memekik mengatakan:"Ya Saad! Kemana engkau? Demi Allah! Aku mencium bau Syurga yang datangnya dari Jabal Uhud".
Dengan berkata demikian dia pun menerkam musuh lalu menentang mereka habis-habisan sehingga dia gugur sebagai Syahid dimedan peperangan. Apabila badannya yang berlumuran darah itu diperiksa terdapat tidak kurang dari 80 liang luka semuanya.Tidak ada siapa yang dapat mengenalinya melainkan saudara perempuannya sahaja. Orang yang berjihad dijalan Allah s.w.t.. dengan penuh keikhlasan dan kejujuran akan mengecap nikmat syurga didunia ini dan diakirat. Demikianlah hal keadaannya dengan sahabat Anas bin Nadhr.
PERDAMAIAN HUDAIBIYAH DAN KISAH ABU JANDAL DAN ABU BASIR
Pada tahun Hijrah yang ke enam, Rasulullah s.a.w. dan para sahabatnya telah bertolak keMekah untuk mengerjakan Umrah. Berita mengenaiBaginda s.a.w. telah sampai kepengetahuan puak Khuraish, mereka pun bersiap sedia untuk menghalang kemasukan Nabi Muhammad s.a.wSahabat-sahabat Nabi Muhammad s.a.w yang berjumlah 1400 orang semuanya dengan semangat keislaman yang berkobar-kobar berazam hendak merempuh masuk keMekah walaupun perbuatan ini akan melibatkan pertempuran secara terbuka tetapi Nabi Muhammad s.a.w. tidak bersependapat dengan mereka. Selepas berfikir sedalam-dalamnya, Baginda s.a.w. memutuskan hendak membuat perjanjian dengan pihak Khuraish serta menerima syarat-syarat yang dikenakan oleh mereka seluruhnya.
Perjanjian yang berat sebelah ini menghampakan perasaan sabahat-sahabat Baginda s.a.w. tetapi kepatuhan dan taat setia mereka kepada Baginda s.a.w. tidak membenarkan mereka menyuarakan bantahan mereka terhadap perjanjian yang tidak adil ini. Pahlawan Islam yang seberani-beraninya seperti Umar pun terpaksa tunduk kepada keputusan yang telah dibuat oleh Nabi Muhammad s.a.w Mengikut salah satu daripada syarat-syarat perjanjian ini orang-orang Khuraish yang menyerah diri kepada pihak orang Muslimin mesti dikembalikan kepada Khuraish sedangkan orang-orang Islam yang menyerah diri kepada pihak Khuraish tidak akan dikembalikan kepada kaum Muslimin.
Abu Jandal, seorang pemeluk agama Islam sedang menerima penyiksaan yang dahsyat ditangan Khuraish. Apabila ia mendengar yang Nabi Muhammad s.a.w sedang berkhemah diHudaibiah, dia pun melepaskan dirinya lalu lari ketempat perkhemahan Nabi Muhammad s.a.wpada masa Perdamaian Hudaibiah hendak ditantangai. Ayah Abu Jandal,Suhail, yang ketika itu belum lagi memeluk Islam menjadi jurucakap bagi pihak Khuraish dalam perundingan mereka dengan Nabi Muhammad s.a.w untuk merangka butir-butir Perdamaian Hudaibiah. Dia menempeleng anaknya Abu Jandal serta memaksanya balik keMekah. Oleh kerana peristiwa ini berlaku ketika Perdamaian Hudaibiah belum berkuatkuasa lagi,Nabi Muhammad s.a.w berpendapat yang perkara perlarian Abu Jandal kepihak Muslimin tidak tertakluk dibawah perjanjian itu, tetapi ayah Abu Jandal menolak hujah-hujah yang dikemukakan oleh Nabi Muhammad s.a.w
Penderitaan Abu Jandal ini menyayatkan hati para sahabat, tetapi apakan daya oleh kerana inginkan perdamaian Nabi Muhammad s.a.w terpaksa menyerahkannya kembali kepada pihak Khuraish sambil menyampaikan kata-kata penawar yang berikut:"Janganlah hendaknya kamu bermuram durja, wahai Abu Jandal. Allah s.w.t. sudah tentu akan membuka jalan buat kamu."
Selepas Perdamaian Hudaibiah ditandatangai dan selepas kepulangan Nabi Muhammad s.a.w. ke Madinah, seorang lagi penduduk Mekah yang beragama Islam telah melepaskan dirinya ke Madinah untuk mendapat perlindungan Nabi Muhammad s.a.w. Orang ini bernama Abu Basir. Permintaan orang yang kedua ini pun terpaksa ditolak oleh Nabi Muhammad s.a.w kerana menghormati Perdamaian Hudaibiah itu.Apabila tiba dua orang wakil puak Khuraish untuk membawanya pulang, ia pun diserahkan kepada orang-orang itu, tetapi sempat juga Nabi Muhammad s.a.w menasihatinya supaya bersabar dan mengharapkan pertolongan Allah s.w.t.
Dalam perjalanan ke Mekah, Abu Basir telah menggunakan helah untuk melepaskan diri. Kata Abu Basir kepada salah seorang daripada pengawal-pengawal itu:"Kawan, bagus sungguh pedang kamu itu."Setelah pedangnya dipuji demikian rupa, orang itu pun berasa bangga lalu menghunuskan pedangnya sambil berkata:"Betul kata kau. Pedang ini bagus dan aku telah mencubanya keatas beberapa orang manusia. Nah, tengoklah kalau awak hendak."
Sebaik sahaja pedang tiba ketangannya, Abu Basir pun membunuh orang itu. Melihat apa yang telah berlaku, pengawal yang seorang lagi cabut lari ke Madinah untuk melapurkan kejadian tadi kepada Nabi Muhammad s.a.w Sementara itu Abu Basir sendiri telah tiba dihadapan Nabi Muhammad s.a.w Katanya kepada Nabi Muhammad s.a.w"Ya Rasulullah, tuan telah kembalikan saya untuk menunaikan janji-janji tuan kepada kafir-kafir Khuraish itu, tetapi saya sendiri tidak ada apa-apa yang hendak ditunaikan. Saya tidak berjanji, Saya melepaskan diri kerana takut kalau-kalau mereka merosakkan keimanan saya"
Sahut Nabi Muhammad s.a.w"Kamu dengan secara tidak sedar sedang menyalakan apa peperangan. Tentu aku berasa suka kalau engkau dapat diberi pertolongan."
Dari kata-kata Nabi Muhammad s.a.wAbu Basir berpendapat yang dia akan diserahkan kepada kafir Mushrikin sekiranya mereka membuat rayuan kepada Nabi Muhammad s.a.w. Oleh yang demikian dia pun meninggalkan Madinah lalu menuju ke sebuah tempat dipadang pasir berdekatan dengan pantai. Tidak lama kemudian Abu Jandal pun menyertainya setelah melepaskan dirinya dari puak Khuraish. Bilangan mereka telah meningkat apabila lebih banyak orang perlarian Islam yang terlepas dari puak Khuraish menyertai mereka. Ditempat persembunyian mereka ini, mereka telah menghadapi penderitaan hidup yang maha hebat tetapi oleh kerana tidak tertakluk kepada Perjanjian Hudaibiah, mereka telah mengganggu khalifah-khalifah Khuraish yang berlalu lalang berdekatan dengan tempat persembunyian mereka. Demikianlah hebatnya gangguan-gangguan yang mereka jalankan sehinggan puak Khuraish terpaksa menemui Nabi Muhammad s.a.w dan merayu kepada Nabi Muhammad s.a.w.supaya berusaha memberhentikan gangguan-gangguan itu.
Mengikut cerita Abu Basir sedang menghadapi maut ditempat tidurnya apabila surat kiriman Nabi Muhammad s.a.wsampai ketangannya. Dalam surat itu Nabi Muhammad s.a.w telah membenarkan ia kembali ke Madinah. Dia meninggal sambil memegang surat yang dihantar oleh Nabi Muhammad s.a.w.
Demikianlah kisah yang menunjukkan kekuatan iman seorang hamba Allah s.w.t. Tidak ada suatu kuasa pun dipermukaan bumi ini yang dapat merosakkan keimanan seseorang asal saja keimanan itu merupakan keimanan yang sejati. Allah s.w.t. tetap akan menolong orang yang benar-benar beriman denganNya.
BILAL DAN PENDERITAANNYA
Bilal r.a.hu adalah salah seorang daripada sahabat-sahabat Nabi Muhammad s.a.w. yang paling terkenal. Dia merupakan muazzin atau juru azan di Masjid Nabi. Dia merupakan seorang hamba Habshi yang dimiliki oleh seorang kafir di Mekah. Pengislamannya telah menimbulkan kemarahan yang tidak keruan didalam hati pemiliknya. Dia pun diazabkan tanpa perikemanusiaan. Umayyah bin Khalaf, pemusuh ISLAM yang terkemuka yang memiliki Bilal akan membaringkannya atas pasir yang panas membakar serta meletakkan batu besar diatas dadanya sehingga ia tidak dapat menggerakkan tulangnya yang lapan kerat. Kemudian berkatalah Umayyah kepada Bilal:"Tinggalkanlah agamamu. Kalau tidak matilah kamu dalam kepanasan matahari yang tegak."
Bilal menjawab dengan berkata:"Ahad"-(Tuhan Yang Esa)-"Ahad-(Tuhan Yang Esa)."
Pada waktu malam ia didera dengan cemeti sehingga badannya luka. Pada waktu siang pula, dia dibaringkan diatas pasir yang panas. Tuannya berharap yang ia akan meninggalkan agamanya atau pun mati akibat luka-luka dibadannya. Namun demikian Bilal masih tetap dengan pendiriannya yang teguh. Umayyah, Abu Jahal dan pengikut-pengikut mereka menyiksa Bilal secara bergilir-gilir. Akhirnya Abu Bakar telah menebuskannya dan dari sejak itu hiduplah ia sebagai seorang Muslim yang bebas. Semenjak ia dibebaskan, dia sentiasa berdampingan dengan Nabi Muhammad s.a.w. sehingga Baginda s.a.w. wafat. Selepas kewafatan Nabi Muhammad s.a.w., Bilal pun meninggalkan Kota Madinah.
Pada suatu ketika dia telah melihat Nabi Muhammad s.a.w. dalam mimpinya. Berkata Nabi Muhammad s.a.w. kepada Bilal: "Wahai Bilal, mengapakah kamu tidak melawatku?"
Sebaik-baik sahaja dia bangun dari tidurnya, dia pun bersiap-siap untuk berangkat ke Madinah. Setibanya dia dikota itu dia telah berjumpa dengan Hassan dan Hussain, cucunda Nabi Muhammad s.a.w. Mereka menyuruh dia berazan.Permintaan orang yang dicintainya itu tidak dapat ditolak. Apabila suara Bilal berkumandang diruang angkasa Kota Madinah, penduduk-penduduknya pun tanpa segan dan silu menghamburkan air mata mereka kerana teringat zaman keemasan yang telah mereka lalui semasa hidupnya kekasih mereka Nabi Muhammad s.a.w. Sekali lagi Bilal telah meninggalkan Kota Madinah dan akhirnya meninggal dunia di Damsyik pada tahun Hijiriah yang ke dua puluh.
ISLAMNYA ABUZAR GHIFARI
Abuzar Ghifari merupakan seorang sahabat c yang terkenal dengan perbendaharaan ilmu pengetahuan dan kesalehannya.Kata Ali r.a.hu.: "Abuzar ialah penyimpan jenis-jenis ilmu pengetahuan yang tak dapat diperolehi oleh orang lain"
Apabila ia mula-mula mendengar khabar tentang kerasulan Nabi Muhammad s.a.w., dia telah menghantar saudara laki-lakinya untuk menyiasat dengan lebih mendalam mengenai orang yang mendakwa menerima berita dari langit.Setelah puas menyiasat, saudaranya pun melapurkan kepada Abuzar yang Nabi Muhammad s.a.w. itu seorang yang bersopan-santun dan baik budi pekertinya. Ayat-ayat yang dibaca kepada manusia bukannya puisi dan bukan pula kata-kata ahli syair. Lapuran yang disampaikan itu masih belum memuaskan hati Abuzar. Dia sendiri keluar untuk mencari kenyataaan. Setibanya di Mekah, dia terus ke Baitul Haram. Pada masa itu dia tidak kenalNabi Muhammad s.a.w. dan memandangkan keadaaan pada masa itu dia berasa takut hendak bertanya darihal Nabi Muhammad s.a.w.Apabila menjelang waktu malam, dia dilihat oleh Ali r.a.hu. Oleh kerana dia seorang musafir Ali r.a.hu terpaksa membawa Abuzar kerumahnya dan melayani Abuzar sebaik-baiknya sebagai tetamu. Ali r.a.hu tidak bertanya sesuatu apa pun dan Abuzar bagi pihak dirinya pun tidak memberitahukan Alitentang maksud kedatangannya ke Mekah. Pada keesokan harinya Abuzar pergi sekali lagi ke Baitul Haram untuk mengetahui siapa dia Muhammad. Sekali lagi Abuzar gagal menemui Nabi Muhammad s.a.w. kerana pada masa itu orang-orang ISLAM sedang diganggu hebat oleh kafir-kafir musrikin. Bagi malam yang keduanya Ali r.a.hu membawa Abuzar kerumahnya. Pada malam yang kedua ini pun Ali r.a.hu tidak bertanya hal Abuzar, tetapi pada malam ketiga Ali r.a.hu bertanya:"Saudara, apakah sebabnya saudara datang ke kota ini?"
Sebelum menjawab, Abuzar meminta Ali r.a.hu berjanji supaya bercakap benar. Kemudian ia pun bertanya kepada Ali r.a.hu tentang Nabi Muhammad s.a.w. Ali r.a.hu berkata sebagai menjawab soalan Abuzar:"Dia sesungguhnya PESURUH ALLAH. Esok engkau ikut saja aku dan aku akan membawa kamu menjumpainya. Tetapi awas bencana yang buruk akan menimpai kamu kalau perhubungan kita ditahui orang. Semasa berjalan esok kalau aku dapati bahaya mengancam kita aku akan berpisah agak jauh sedikit daripada kamu dan berpura-pura membetulkan kasutku, tetapi engkau terus berjalan supaya orang tidak mensyaki perhubungan kita."
Pada esoknya itu Ali r.a.hu pun membawa Abuzar bertemu dengan Nabi Muhammad s.a.w. Tanpa banyak soal-jawab, dia telah memeluk agama ISLAM. O;eh kerana takut kalau-kalau dia diapa-apakan oleh pihak musuh, Nabi Muhammad s.a.w. pun menasihatinya supaya lekas balik dan supaya jangan mengistiharkan pengislaman di khalayak ramai, tetapi Abuzar dengan berani menjawab:"Ya Rasulullah, aku bersumpah dengan Allah yang jiwaku ditanganNya bahawa aku akan mengucap KALIMAH SYAHADAH dihadapan kafir-kafir musyirikin itu."
Janjinya pada Nabi Muhammad s.a.w. ditepatinya. Selepas ia meninggalkan Bagimda dia mengarahkan langkahnya ke Baitul Haram dimana dihadapan kaum musyrikin dan dengan suara yang lantang dia telah mengucapkan DUA KALIMAT SYAHADAH
"AKU MENYAKSIKAN YANG TIADA TUHAN MELAINKAN ALLAH DAN AKU MENYAKSIKAN YANG MUHAMMAD ITU PESURUH ALLAH."
Apatah lagi, demi didengarinya ucapan Abuzar itu, orang-oarang kafir pun menyerbuinya lalu memukulnya. Kalau tidaklah kerana Abbas, (ayah saudara Nabi Muhammad s.a.w. yang ketika itu belum memeluk agama ISLAM ) Abuzar sudah tentu menemui ajalnya.Kata Abbas kepada kafir-kafir musyirikin yang menyerang Abuzar:"Tahukah kamu siapa orang ini? Dia ialah dari puak Ghifar. Khalifah-khalifah kita yang berulang alik ke Sham terpaksa melalui perkampungan mereka. Kalaulah ia dibunuh, mereka sudah tentu akan menghalang perniagaan kita dengan Sham."
Pada hari yang berikutnya Abuzar sekali lagi mengucap DUA KALIMAT SYAHADAH dihadapan kafir-kafir Quraish dan pada kali ini juga ia telah diselamatkan oleh Abbas.Keghairahan Abuzar mengucap DUA KALIMAH SYAHADAH dihadapan kafir-kafir Khuraish sungguh-sungguh luar biasa kalau dikaji dalam kontek larangan Nabi Muhammad s.a.w. kepadanya. Apakah dia boleh dituduh sebagai telah mengingkari perintah Nabi Muhammad s.a.w.
Jawabnya-TIDAK. Dia tahu yang Nabi Muhammad s.a.w. sedang mengalami penderitaan yang berbentuk gangguan dalam usahanya kearah menyibarkan agama Islam. Dia hanya hendak mencontohi Nabi Muhammad s.a.w. walaupun dia mengetahui dengan berbuat demikian dia mendedahkan dirinya kepada bahaya. Semangat keislaman yang sebeginilah yang telah membolehkan para sahabat mencapai puncak kejayaan dalam alam lahiriah serta batiniah. Keberanian Abuzar ini sudah selayaknya dicontohi oleh umat Islam dewasa ini didalam rangka usaha mereka menjalankan dakwah Islamiah. Kekejaman, penganiayaan serta penindasan tidak semestinya melemahkan semangat mereka yang telah mengucapkan Dua Khalimah Syahadah.
PENDERITAAN KHABBAB BIN ALARAT
Khabbab ialah seorang manusia yang telah banyak berkorban kerana agama yang telah dianutinya. Dia awal-awal lagi telah memeluk agama Islam dan oleh yang demikian penderitaan yang ditanggungnya pun agak lama juga. Dia telah dipaksakan memakai baju besi dan disuruh berbaring dipasir, mendedahkan badannya pada panas matahari yang terik hingga kulitnye mengelupas. Khabbab adalah seorang hamba abdi kepada seorang perempuan. Apabila diketahui oleh si perempuan tadi yang dia sering melawat Nabi Muhammad s.a.w kepalanya diselar dengan panas yang merah membara.
Umar r.a.hu semasa beliau menjadi Khalifah telah bertanya kepaha Khabbab tentang penderitaannya dikala mula-mula menganuti agama Islam dahulu. Sebagai menjawab dia menunjukkan parut-parut luka dibelakang badannya. Kata Umar,"Aku tidak pernah melihat belakang badan yang sedimikian rupa." Melanjutkan ceritanya dia mengatakan yang dia telah diheret diatas suatu timbunan bara api sehingga lemak-lemak dan darah yang mengalir dari badannya memadamkan bara-bara api itu. Apabila agama Islam telah merebak ke merata-rata tempat, Khabbab sering duduk menangis sambil berkata:"Nampaknya Allah s.w.t. sedang memberi ganjaran bagi segala penderitaan yang kita alami. Mungkin di akhirat nanti tidak ada ganjaran yang bakal kita terima."
Khabbab bercerita:
"Pada suatu hari Rasulullah s.a.w. telah mengimami kami dalam sembahyang. Rasulullah s.a.w telah memanjangkan suatu rakaat. Diakhir sembahyang itu kami bertanya tentang rakaat yang panjang tadi. Rasulullah s.a.wmenjawab:"Saya telah membuat tiga permintaan kepadaAllah s.w.t.. Saya berdoa:"Ya Allah, janganlah hendaknya ummatku mati kerana kebuluran, janganlah hendaknya ummatku dihapuskan oleh musuh dan janganlah hendaknya mereka berkelahi sesama mereka"."Allah s.w.t.. telah menunaikan hanya dua permintaanku yang pertama."
Khabbab telah meninggal dunia apabila usianya meningkat tiga puluh tujuh tahun. Dia merupakan sahabat yang pertama sekali dikebumikan di Kufah. Pada suatu ketika apabila Ali r.a.hu melalui pusaranya beliau pun berkata:"Moga-moga Allah s.w.t. memberkhati dan melimpahkan rahmatNya keatas Khabbab. Dia telah memeluki Islam dengan segala senang hati dan telah menumpukan segala tenaganya semasa ia hidup untuk berusaha dijalan Allah, walaupun dengan berbuat demikian dia menderita kesusahan. Berbahagialah orang yang sentiasa mengingati hari Kiamat, yang sentiasa bersiap sedia untuk menghadapi perhitungan diAkhirat nanti, yang berpuas hati dengan hidup berdikit-dikit didunia ini dan yang perbuatannya mendatangkan keridhaan tuhan."
Keridhaan Allah s.w.t.lah yang menjadi matlamat tunggal perjuangan hidup para sahabat semuanya. Semoga kita semua juga akan mendapat keridhaan Allah s.w.t.
AMMAR DAN IBUBAPANYA
Ammar dan kedua-dua orang tuanya termasuk dalam golongan kaum Muslimin yang disaksikan oleh pemusuh-pemusuh Islam kerana menerima ajaran Nabi Muhammad s.a.w. Mereka telah diazabkan diatas batu-batu dan tanah yang panas membakar. Apabila Rasullullah s.a.w. lalu berdekatan mereka Nabi Muhammad s.a.w. akan menggesa mereka supaya bersabar sambil memberi khabar gembira mengenai syurga. Yasir, ayah kepada Ammar telah meninggal dunia setelah menerima penyiksaan yang berpanjangan. Ibunya yang telah tua pula ditikam mati dengan dengan lembing oleh Abu Jahal. Dia enggan meninggalkan agamanya walaupun disiksa dengan pedihnya. Dia merupakan wanita pertama yang sahid kerana mempertahankan agama.
Apabila Nabi Muhammad s.a.w. hendak berhijrah ke Madinah, Ammar telah menawarkan hendak membuat sebuah binaan dimanaNabi Muhammad s.a.w. boleh duduk, berehat diwaktu petang dan mengerjakan solat. Binaan ini didirikan dengan batu-batu yang dipungutkan oleh dirinya sendiri. Dia menentang musuh-musuh Islam dengan penuh keghairahan dan keberanian. Dalam suatu pertempuran dia telah berkata dengan gembiranya: "Aku akan menemui kawan-kawan aku tak lama lagi. Aku akan berjumpa dengan Nabi Muhammad s.a.w. dan sahabat-sahabatnya."
Kemudian ia meminta air untuk diminum tetapi dia diberi susu. Sambil mengambil susu itu dia berkata: "Aku mendengar Nabi Muhammad s.a.w.. berkata padaku:"susu inilah minuman kau yang terakhir didunia!"
Dia bangun lalu meneruskan perjuangannya menentang musuh sehingga ia gugur. Pada masa itu dia berusia sembilan puluh empat tahun.
ISLAMNYA SOHAIB
Sohaib dan Ammar memeluk Islam pada waktu yang sama. Pada masa itu Nabi Muhammad s.a.w. tinggal ditempat kediaman Arqam. Mereka datang secara berasingan untuk memeluk agama Islam dan telah bertemu dipintu rumah Arqam. Sohaib seperti Ammar telah menderita akibat penyiksaan yang diterima ditangan pemusuh-pemusuh Islam. Akhirnya dia memutuskan hendak berhijrah ke Madinah.Kafir-kafir Quraish tidak mahu dia berbuat demikian lantas menghantar suatu gerombolan untuk memaksanya balik ke Mekah.Sebaik-baik sahaja kafir-kafir musyrikin itu mendekatinya, dia memekik kepada mereka:"Kamu semua tahu yang aku ini pemanah yang lebih handal daripada kamu. Selagi ada anak panah pada ku selama itulah kamu tidak dapat menghampiri aku. Apabila habis anak panah ku aku akan menggunakan pedang aku pula. Kalau kamu suka pergilah ambil wangku yang kutinggalkan di Mekah dan dua orang sahaya perempuanku sebagai penebusan diriku."
Mereka bersetuju. Dia pun memberitahu tempat dimana wangnya disimpan. Selepas itu dia meneruskan perjalanannya ke Madinah. Berkenaan dengan perbuatan Sohaib ini Allah s.w.t. telah menurunkan ayat yang berikut kepada Nabi Muhammad s.a.w. yang bermaksud:
"Dan dari antara manusia ada yang menjual dirinya kerana hendak mencari keridhaan Allah dan Allah itu amat penyayang kepada hamba-hambaNya."
Pada ketika menerima ayat ini Nabi Muhammad s.a.w.. berada di Qubo. Apabila dilihatnya Sohaib, Baginda s.a.w. pun berkata: "Penjualan yang baik sungguh, Sohaib."
ISLAMNYA UMAR
Umar r.a.hu selepas ia memeluk agama Islam, menjadi kebanggaan orang-orang Islam dan musuh ketat kafir-kafir musyrikin tetapi sebelum itu dia menentang Nabi Muhammad s.a.w. dan mengganggu orang-orang yang menganuti Islam. Dalam suatu mesyuarat orang-orang Quraish, pada suatu hari mereka telah memutuskan hendak meminta salah seorang daripada mereka supaya membunuh Nabi Muhammad s.a.w.
Umar telah tampil kehadapan sebagai sukarelawan yang ingin mengusahakan pembunuhan itu. Tiap-tiap Quraish yang menghadiri mesyuarat itu berkata serentak"Ya, engkaulah yang dapat melakukannya,Umar!"
Dengan pedang yang bergantungan dilehernya, Umar pun mengarahkan langkah menuju ketempat kediamanNabi Muhammad s.a.w.Dalam perjalanannya ia telah menemui Saad bin Abi Waqqas. Saad berkata: "Kemana kau, Umar?"Umar menjawab: "Aku hendak pergi menamatkan riwayat hidup Nabi Muhammad " Saad: "Kalau begitu Banu Hashim, Banu Zuhrah dan Banu Abdi Manaf akan membunuh kamu sebagai tindakan balas."Umar(gelisah dengan amaran itu) berkata: "Nampaknya kau juga telah meninggalkan agama nenek moyang kau. Biar aku kerjakan kau dahulu."
Umar dengan serta merta menghunus pedangnya. Sambil mengistiharkan pengislamannya Saad juga berbuat demikian. Sebelum bertarung dengan Umar sempat juga berkata:"Lebih baik kau menguruskan rumahtangga kau dahulu. Saudara perempuan kau dan iparkau, kedua-duanya telah memeluk agama Islam"
Kemarahan Umar ketika mendapat cerita itu tak dapat diceritakan lagi. meninggalkan Saad, dia menggerakkan langkahnya kearah rumah saudara perempuannya. Setibanya dirumah itu dia dapati rumah itu telah berkunci dari dalam. Sambil mengetuk-ngetuk pintu itu dia menjerit dengan sekuat tenaga kepada saudaranya supaya pintu itu dibuka. Mendengar suara Umar, Khabbab telah lari bersembunyi meninggalkan masyaf-masyaf Quran yang sedang mereka baca. Apabila pintu dibuka Umar dengan cepat menempeleng saudaranya sambil berkata:"Hai pengkhianat dirimu sendiri, engkau juga telah meninggalkan agamamu."
Tanpa menghiraukan kepala saudaranya yang berdarah, dia masuk kedalam sambil bertanya: "Apakah kelian sedang buat tadi dan siapa dia orang yang suaranya aku dengar dari luar?" Iparnya menjawab:"Kami hanya berbual-bual." Umar bertanya kepada iparnya "Adakah kamu juga telah meninggalkan agama nenek moyang kamu dan memeluk agama baru?" Ipar Umar menjawab:" Bagaimana pula agama baru itu lebih baik dari agama kita yang lama itu?" Jawapan itu menyebabkan Umar memukul dengan kejam dan menarik-narik janggutnya. Saudaranya yang datang hendak melerai mereka juga dipukul sehingga mukanya berlumuran dengan darah. Sambil menangis saudara perempuannya berkata:"Umar! kami dipukul hanya kerana kami memeluk agama Islam. Kami berazam hendak mati sebagai orang-orang Islam Kau bebas melakukan apa saja yang kau suka atas diri kami."
Apabila hatinya sejuk sedikit dia berasa malu atas perbuatannya terhadap saudara perempuannya itu. Tiba-tiba ia terpandang akan masyaf-masyaf yang ditinggalkan oleh Khabbab tadi. Katanya:"Baiklah, tunjukkan masyaf-masyaf ini." "Tidak," kata saudaranya.: "Badan kau tak bersih dan orang yang tak bersih tak seharusnya memegang masyaf-masyaf ini." Umar akhirnya membersihkan badannya dan mula membca masyaf-masyaf tadi. Surah yang dibacanya ialah SURAH TAHA.Dia membaca dari permulaan surah itu.Seluruh sikap dan pandangannya berubah apabila ia sampai ke ayat yang bermaksud:
"Akulah Allah. Tidak ada Tuhan melainkan Aku. Oleh itu sembahlah Aku dan dirikanlah sembahyang buat mengingati Aku."
Kata Umar: "Baiklah, bawa aku bertemu dengan Muhammad "
Mendengar kata-kata Umar itu Khabbab pun keluarlah dari tempat persembunyiannya sambil berkata:"Ya Umar, ada berita baik untuk kamu. semalam (iaitu malam Juma'at)Nabi Muhammad s.a.w. telah berdoa kepada Allah s.w.t..: "Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar atau Abu Jahal, siapa yang Engkau suka.".Nampaknya Allah s.w.t. telah memilih engkau sebagai menunaikan permintaan Nabi Muhammad s.a.w.
Umar telah menemui Nabi Muhammad s.a.w. dan pada pagi Juma'at dia telah memeluk agama Islam Pengislaman Umar merupakan merupakan suatu pukulan yang hebat kepada puak musyrikin. Sungguh pun begitu bilangan orang Islam terlalu kecil kalau dibandingkan dengan bilangan puak musuh. Kafir-kafir musyrikin telah memperhebatkan usaha-usaha mereka untuk menghapuskan orang-orang Islam serta agama mereka. Dengan Islamnya Umar, kaum Muslimin telah bertambah berani dan sekarang mereka mendirikan sembahyang di Baitul Haram. Kata Abdullah bin Masud: "Pengislaman Umar merupakan suatu kejayaan besar kepada kaum Muslimin, perpindahannya menguatkan kami dan perlantikannya sebagai Khalifah merupakan suatu keberkatan kepada kami.:"
PERPINDAHAN KE HABSHAH DAN PEMULAUAN DILEMBAH IBNU ABI TALIB
Kesusahan dan penderitaan yang ditanggung oleh kaum Muslimin semakin bertambah-tambah. Baginda s.a.w akhirnya membenarkan mereka meninggalkan Mekah. Negeri Habshah pada masa itu diperintahkan oleh seorang raja Kristian (kemudiannya telah memeluk Islam) yang masyhur dengan belas-rahim dan keadilannya. Dalam bulan Rejab, selepas selepas lima tahun Nabi Muhammad s.a.w. menjalankan dakwahnya, kumpulan orang-orang pelarian yang pertama telah berlepas ke Habshah. Kumpulan ini terdiri daripada lima belas orang lelaki dan lima orang perempuan. Puak Quraish yang mengejar mereka tiba dipelabuhan selepas kapal mereka bertolak. Setibanya mereka diHabshah , mereka mendengar khabar angin yang mengatakan bahawa kesemua puak Quraish telah beriman dan menerima ajaran Islam. Kegembiraan mereka bukan kepalang. Mereka pun memutuskan hendak kembali ketanah air mereka, tetapi apabila hampir-hampir tiba keMekah mereka dapati yang berita angin yang mereka dengar semasa diHabshah tidak benar sama sekali. Kempen mengganggu orang-orang Islam tidak sedikit pun berkurangan. Oleh hal yang demikian setengah daripada mereka terpaksa belayar kembali keHabshah sedangkan yang lainnya memasuki kota Mekah dengan perlindungan orang-orang yang berpengaruh. Peristiwa ini dikenali dengan 'PERPINDAHAN KEHABSHAH YANG PERTAMA'. Tidak lama kemudian satu rombongan yang lebih besar terdiri daripada lapan puluh orang lelaki dan lapan belas perempuan telah berlepas keHabshah. Pemergian yang kedua ini disebut sebagai 'PERPINDAHAN KEHABSHAH YANG KEDUA'. Ahli-ahli rombongan yang kedua ini termasuk juga sebilangan kecil para sahabat Nabi Muhammad s.a.w.
Pemergian orang-orang Islam keHabshah menimbulkan kemarahan kafir-kafir Quraish. Suatu rombongan puak Quraish lengkap dengan hadiah-hadiah yang akan diberi kepada Raja Habshah, pembesar-pembesar istananya dan paderi-paderi Kristian telah berlepas kesana. Setelah pembesar-pembesar istana disogok mereka dengan senang masuk keistana penghadapan untuk menemui Raja. Mereka disujudkan dihadapan Raja sambil meletakkan hadiah-hadiah didepannya.
Mereka pun berbicara: "Tuanku, sebilangan kecil orang-orang kami telah meninggalkan agama mereka yang turun termurun dan telah memeluk agama baru yang bertentangan dengan agama kami dengan agama kamu. Merka telah datang untuk tinggal disini. Pembesar-pembesar Mekah, ibu bapa dan kaum kerabat mereka telah menghantar kami untuk membewa mereka balik. Kami memohon Tuanku supaya mereka diserahkan kepada kami."
Jawab Raja Habshah:" Kami tidak dapat menyerah orang yang telah diminta perlindungan kami tanpa usul periksa. Biarlah mereka dibawa kehadapan kami supaya dapat kami mengkaji hujah-hujah mereka. Kalau tuduhan kemurtadan yang telah kamu melemparkan terdapat mereka itu benar kami akan serahkan mereka kepada kamu."
Oleh Raja Habshah disuruhnya pegawai-pegawainya membawa orang Islam kebalai penghadapan.Orang-orang Islam itu berasa gelisah kerana tidak tahu apa yang mesti diperbuat tetapi Allah s.w.t. telah memberikan peransang. Sebaik-baik sahaja mereka sampai sampai dihadapan Raja mereka menyampaikan salam kepadanya. Seorang pegawai istana telah membantah mengatakan yang mereka tidak bersujud dihadapan raja. Mengikut adat kebiasaan orang-orang Habshi mereka menerangkan:"Nabi kami telah melangkan kami supaya bersujud kepada sesiapa melainkan Allah s.w.t."
Kemudian Raja Habshah telah menyuruh mereka membentangkan hujah-hujah mereka sebagai mempertahankan diri dari pertuduhan puak Quraish. Jaafar r.a.hu bangun lalu berucap:"Tuanku! Kami ini manusia yang jahil. Kami tidak mengenal Allah s.w.t. dan Pesuruh-pesuruhNya.Kami menyembah batu-batu, memakan bangkai serta mengerjakan segala jenis kejahatan.Kami tidak menunaikan kewajipan kami terhadfap kaum kerabat kami. Yang kuat diantara kami akan menindas yang lemah. Akhirnya bangunlah seorang Nabi yang membawa pembaharuan didalam penghidupan kami. Keturunan yang mulia, perangainya yang lurus dan kehidupannya yang suci bersih diketahui umum.Dia menyeru kami supaya kami menyembah Allah s.w.t. dan meninggalkan perbuatan-perbuatan syirik.Dia mengajar kami melakukan perbuatan yang Ma'ruf dan meninggalkan yang Mungkar. Dia mengajarkan kami supaya bercakap benar, menunaikan amanah, menghormati kaum-kaum kerabat dan berbuat baik dengan jiran tetangga. Daripadanya kami belajar sembahyang, berpuasa, berzakat dan berkelakuan baik. Kami diajar supaya menjauhi perbuatan-perbuatan jahat dan pertumpahan darah. Dia melarang perzinaan, perbuatan-perbuatan lucah, bercakap bohong, memakan harta-harta anak yatim dengan secara haram, mengada-adakan fitnah dan sebagainya. Dia mengajar kami Quran dan Kitabullahyang mengkagumkan. Jadi kami percayakan kepadanya, kami mengikuti jejak langkahnya dan menerima ajaran yang dibawanya.Oleh kerana inilah maka kami telah menggangui dan disiksa dengan harapan kami akan kembali kepada keadaan sediakala.Apabila kejaman orang-orang kami melampui batas-batas perikemanusiaan, kami pun dengan doa restu Nabi kami telah datang kemari untuk berlindung ditempat Tuanku."
Kata Raja Habshab:"Perdengarkan sedikit kuma Quran yang telah kamu pelajari daripida Nabi kamu." Jaafar pun membacalah ayat-ayat pada permulaan 'Surah Mariam'. Ayat-ayat yang dibaca begitu mengharukan hati nurani para pendengar sehingga pipi mereka dibasahi air mata."Demi Allah!" kata Raji Habshah."Perkatan-perkataan ini dari perkataan-perkataan yang diturunkan kepada Musa merupakan cahaya dari suatu sumber sinaran yang sama."
Menoleh kepada perwakilan puak Quraish, Dia berkata yang dia enggan menyerahkan orang-orang pelarian itu kepada mereka.Sungguhpun orang-orang Quraish telah berasa malu dan hampa namun mereka tidak mahu mengaku kalah. Mereka mengadakan mesyuarat dimasa salah seorang daripada mereka telah berkata,:"Aku ada satu rancangan yang sudah tentu akan menimbulkan kemarahan baginda terhadap mereka."Rancangan ini tidak dipersetujui oleh rombongan-rombongan Quraish yang lain. Mereka berpendapat bahawa jiwa orang-orang Islam akan terancam jika ianya berhasil. Mereka tidak ingin membahayakan orang yang sedarah sedaging dengan mereka. Tetapi orang mencadangkan itu tiddak mahu membatalkannya. Pada esoknya, dipengaruhi pleh orang lain, perwakilan Quraish telah menghasut Raja Habshah dengan menatakan yang orang perlarian Islam tidak percaya yang Nabi Musa itu anak Allah s.w.t. Sekali lagi orang-orang Islam dibawa menghadap raja. Meraka gementar kerana ketakutan apabila ditanya mengenai pendirian mereka tentang Nabi Musa a.s mereka dengan tegas menjawab: "Kami percaya kepada kata-kata Allah yang telah diturunkan kepada Nabi kami mengenai Isa iaitu dia hanya seorang hamba danPesuruh Allah Kami juga percaya dengan kata-kata Allah s.w.t. yang telah disampaikanNya kepada Maryam"
Negus (Raja Habshah) berkata:"Demikian juga dakwah Isa mengenai dirinya."Paderi-paderi yang mendengar kata-kata Negus bersungut-sunut sebagai membantah tetapi dia tidak menghiraukan mereka. Dia mengembalikan hadiah-hadiah yang telah diberikan oleh perwakilan Quraish. Berpaling kepada pelarian-pelarian Islam, dia berkata:"Pergilah hidup dengan aman. Orang-orang yang menganiayai kamu akan menerima hukuman yang berat."Satu pengistiharan diraja telah dirasmikan mengenai perkara ini. Rombongan Quraish telah balik dengan perasaan sedih dan memalukan.
Kegagalan perwakilan Quraish dan kemenangan orang-orang Islam telah menyebabkan pihak mushrikin Mekah bertambah berang..Api merahan mereka telah bersemarak lagi apabila Umar telah memeluk agama Islam. Akibat kemarahan yang berleluasa ini, suatu persidangan yang dihadiri oleh pemuka-pemuka puak Quraish telah diadakan. Tujuan utama mesyuarat ini ialah hendak merancang pembunuhan Baginda s.a.w. Mereka hendak mengatasi masalah Nabi Muhammad s.a.w. dengan sekali gus tetapi pembunuhan ini bukan satu perkara yang senang diselenggarakan. Banu Hashim, puak Nabi Muhammad s.a.w. sangat banyak bilangan ahli-ahlinya dan sangat kuat pengaruhnya dikalangan bangsa Quraish. Sungguhpun banyak diantara mereka tidak menganuti agama Islam mereka sudah tentu tak akan berdiam diri kalau salah seorang daripada mereka dibunuh. Oleh hal yang demikian pemuka-pemuka Quraish telah memutuskan hendak menjalankan pemulauan sosial keatas Banu Hashim. Mereka telah menyusun satu dokumen dalam mana dinyatakan puak-puak Quraish lainnya tidak akan bergaul dan berjual-beli dengan puak Banu Hashim selagi mereka tidak menyerahkan Nabi Muhammad s.a.w.untuk dibunuh. Dokumen yang ditandatangi oleh pemuka-pemuka Quraish itu digantung di Kaabah. Pemulauan itu berjalan dan berkuatkauasa selama tiga tahun dan selama itu pula Nabi Muhammad s.a.w. dan puak Banu Hashim terkepung didalam satu lembah diluar Kota Mekah. Mereka tidak dibenarkan keluar dari lembah itu dan tidak boleh berjual-beli dengan puak-puak Quraish yang lain hatta dengan pedagang-pedagang asing sekalipun. Mereka yang melewati batas 'penjara' mereka ataupun yang cuba membeli barang-barang makanan dipukul dengan sekejam-kejamnya. Pemulauan ini sudah tentu mengakubatkan puak Bani Hashim menghadapi kebuluran. Mujur juga ada sedikit makanan yang telah diseludup oleh lelaki puak Quraish yang lain yang telah berkahwin dengan wanita-wanita Banu Hashim. Penderitaan yang dialami oleh mereka tidak dapat dibayangkan. Walau bagaimanapun Nabi Muhammad s.a.w dan para sahabatnya tetap teguh dengan keimanan mereka dan dalam keadaan yang tidak menyenangkan ini sempat juga mereka menyaampaikan ajaran Ilahi kepada manusia yang senasib dengan mereka.
Akhirnya selepas tiga tahun dengan khudrat dan iradat Allah s.w.t. dokumen yang digantung diKaabah telah hancur dimakan oleh anai-anai dan pemulauan yang dikenakan keatas Banu Hashim dengan sendirinya terbatal.
Demikianlah dengan serba ringkasnya gambaran penderitaan yang telah dialami oleh Nabi Muhammad s.a.w. dan para sahabatnya. Kita yang mendakwa kita sebagai pengikut-pengikut mereka patut bertanya kepada diri kita sendiri menegenai usaha-usaha yang telah kita jalankan untuk menegakkan Syariat-syariat Islam. Apakah pengorbanan yang telah kita lakukan dijalan Allah s.w.t.? Kita ingin majukan duniawi dan nikmat hidup ukhrawi tetapi kita lupa yang ini semua tidak mungkin diperolehi tanpa pengorbanan dijalan Allah s.w.t.
KETAKUTAN NABI MUHAMMAD S.A.W SEWAKTU BERLAKU RIBUT
Telah berkata Aishah r.a.hu apabila angin ribut yang membawa awan hitam bertiup,wajah Nabi Muhammad s.a.w. kelihatan pucat kerana takutkan Allah s.w.t.. Baginda s.a.w. keluar masuk dalam keadaan gelisah sambil membaca doa berikut yang maksud: "Wahai Tuhanku, aku memohon kepadaMu kebajikan angin ini dan kebajikan yang ada didalamnya dan kebajikan apa yang Engkau kirim dengannya dan aku berlindung dengan Engkau dari kejahatan yang Engkau kirimkan dengannya."
Kata Aishah lagi: "Apabila hujan mulai turun terbayang tanda-tanda kesukaan diwajah Nabi Muhammad s.a.w. Aku bertanya kepadanya: "Ya Rasulullah, apabila kelihatan semua orang merasa suka kerana yang demikian menandakan hujan akan turun tetapi mengapa aku melihat kamu pula berasa cemas?" Baginda s.a.w.menjawab. "Ya Aishah, bagaimana aku dapat menentukan bahawa angin yang bakal mendatang itu tidak menandakan kemurkaan Allah s.w.t.? Kaum A'ad telah dihapus oleh angin. Mereka berasa gembira apabila melihat awan-awan hitam tetapi bukannya hujan yang dibawa bahkan pembinasaan mereka sendiri."
"Maka takkala mereka melihat (ancaman) itu sebagai awan menghadap kelembah-lembah mereka, mereka berkata"Ini awan yang akan menurunkan hujan keatas kita." "Bukan! bahkan ialah ancaman yang kamu mintaya disegerakan iaitu angin yang didalamnya azab yang pedih- yang binasakan tiap-tiap suatu dengan perintahnya, sehingga jadilah mereka tidak kelihatan melainkan tempat-tempat mereka. Demikianlah kami balas kaum yang derhaka."
Tuhan telah berjanji melalui sepotong ayat dalam SURAH AN-ANFAL yang Dia tidak akan mengazabkan manusia selagi Nabi Muhammad s.a.w. ada bersama-sama mereka. Dalam pada itu pun tiap-tiap kali angin kencang bertiup Nabi Muhammad s.a.w. tetap merasa takut. Bandingkan pula perasaan Baginda s.a.w. dengan perasaan kita apabila kilat memancar ataupun banjir berlaku. Yang takut segelintir sahaja. Merekalah yang mengucap Istighfar. Yang lain sibuk dengan keseronokkan hidup masing-masing.
AMAL PERBUATAN ANAS SEWAKTU RIBUT BERLAKU
Diceritakan oleh Nadhr bin Abdullah.
"Pada suatu hari ketika Anas masih hidup cuaca telah menjadi kelam. Saya pergi berjumpa dengannya sambil bertanya: "Pernah kau lihat perkara yang seperti ini berlaku semasa hayat Rasullullah s.a.w.?" Dia menjawab:"Aku berlindung dengan Allah s.w.t.. Pada masa itu kalau berlaku angin ribut kami akan bersegera kemasjid takut kalau-kalau berlaku hari kiamat."Abu Darda bercerita: "Apabila angin kencang bertiup Nabi Muhammad s.a.w. akan berasa cemas. Baginda s.a.w. akan pergi kemasjid."
Amalan seperti ini jarang sekali diperbuat oleh umat Islam sekarang sama ada dari golongan orang kebanyakan ataupun ulama. Mungkin mereka tidak ketahui yang amalan ini merupakan satu sunnah Baginda Rasullullah s.a.w.
RASULULLAH S.A.W. PADA MASA GERHANA MATAHARI
Matahari telah gerhana pada suatu hari. Para sahabat telah meninggalkan pekerjaan mereka masing-masing. Kanak-kanak kecil yang sedang berlatih memanah berlari-lari menuju kemasjid untuk mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Nabi Muhammad s.a.w.
Nabi Muhammad s.a.w. telah mendirikan sembahyang dua rakaat yang sangat panjang sehingga ada orang yang jatuh pengsan. Dalam sembahyang itu Nabi Muhammad s.a.w. telah menangis sambil berkata:"Ya Tuhanku, engkau telah berkata yang engkau tidak akan menyiksa (umatnya) selagi aku berada bersama mereka dan selagi mereka meminta keampunan engkau."
Disini terjelaslah yang Nabi Muhammad s.a.w.. merujuk kepada ayat Al-Quran yang bermaksud:
"Tetapi Allah tidak akan mengazabkan mereka selagi engkau ( Nabi Muhammad s.a.w.) bersama mereka dan DIA tidak akan mengazabkan, mereka meminta keampunan." - (surah AL-ANFAL-33)
Kemudian dia mengucap kepada para jemaah:
"Kamu hendaklah bersegera melakukan solat apabila berlaku gerhana bulan atau matahari. Kalau kamu tahu tanda-tanda hari Kiamat sebagaimana aku ketahui tentu kamu banyak menangis dan sedikit ketawa. Peristiwa-peristiwa seperti ini memerlukan kita bersembahyang, berdoa kepada Allah s.w.t. dan bersedekah kepada fakir-miskin."
TANGISAN NABI MUHAMMAD S.A.W. SEMALAMAN
Sekali, Nabi Muhammad s.a.w. telah menangis semalam-malaman sambil mambaca berkali-kali dalam sembahyang Tahajjudnya ayat yang bermaksud:
"Jika Engkau siksa mereka maka sesungguhnya mereka itu adalah hamba-hambaMu dan jika Engkau ampunkan mereka maka sesungguhnyaEngkaulah yang maha kuasa dan bijaksana"
Tangisan seperti ini pernah sekali dilakukan oleh IMAM ABU HANIFA (RAHMATULLAH ALAIHI) sambil membaca ayat ini yang bermaksud:
"Dan berpisahlah kamu pada hari ini, hai orang-orang yang berdosa"
Ayat ini membawa makna yang orang-orang yang mendurhakai Allah s.w.t. akan disuruh berpisah daripada mereka yang berbakti kepadaNya dan tidak dibenarkan bergaul dengan para salehin sebagaimana yang diperbuat oleh mereka didunia. Mengenangkan peristiwa yang bakal berlaku ini, maka mereka yang bertakwa sering menangis lantaran takut dimasukkan kedalam golongan yang mengengkari Allah s.w.t. pada hari Perhitungan kelak.
CONTOH TAKWA YANG DIPERTUNJUKKAN OLEH ABU BAKAR
Tidak syak lagi bahawa Abu Bakar r.a.hu merupakan manusia yang paling tinggi mertabatnya dikalangan para sahabat. Nabi Muhammad s.a.w. sendiri pernah menyampaikan berita gembira mengenai kedudukannya yang utama diantara penguni-penghuni syurga yang maha mulia.
Kata Nabi Muhammad s.a.w.:"Nama Abu Bakar akan diseru daripada segenap pintu syurga dan dialah pengikutku yang pertama akan memasukinya."
Namun demikian perasaan takutnya kepada Allah s.w.t. tetap bertakhta dikalbunya. Dia sering berkata: "Alangkah baiknya kalau aku menjadi sebatang pokok yang ditebang dan dijadikan kayu api" Kadang-kadang dia berkata: "Alangkah baiknya kalau aku ini sehelai rumput yang riwayat hidupnya akan tamat apabila dimakan oleh seekor binatang ternakan."
Pada suatu hari dia telah pergi kesebuah taman dimana ia lihat seekor burung sedang berciap-ciap. Katanya: "Wahai burung! Sungguh bertuah kamu. Kau makan minum dan bertebangan dibawah naungan pokok-pokok kayu tanpa sebarang perasaan takut tentang hari perkiraan Aku ingin menjadi seperti engkau,wahai burung."
Rabi'ah Aslami r.a.hu telah bercerita:
"Pada suatu hari saya telah bertentangan dengan Abu Bakar. Semasa pertengkaran itu berjalan, dia telah mengeluarkan sepatah perkataan kesat terhadap saya. Dengan serta-merta itu juga, dia telah menyedari akan kesalahannya itu lalu berkata: "Wahai saudara, gunakanlah perkataan itu terhadap saya sebagai tindakan balas."
Saya enggan berbuat demikian. Dia menggesa-gesakan saya supaya menggunakan perkataan kesat tadi dan berkata hendak merujukkan perkara itu kepada Nabi Muhammad s.a.w. Saya tidak juga mahu mengalah. Dia lalu bangun lalu meninggalkan saya. Beberapa orang ahli dari puak saya yang menyaksikan peristiwa tadi mencemuh: "Ganjil betul orangnya, dia yang melakukan kesalahan dan dia pula mengancam hendak mengadu kepada Nabi Muhammad s.a.w.
Saya dengan segera menyampuk: " Kamu tahukah siapa dia? Dia adalah Abu Bakar. Menyinggungnya bererti menyinggung Nabi Muhammad s.a.w. dan menyinggung Nabi Muhammad s.a.w. bererti menyinggung Allah s.w.t., kalau perbuatan aku menyinggung Allah s.w.t., siapakah gerangannya yang akan menyelamatkan aku?"
Saya pun bangun lantas pergi menghadap Nabi Muhammad s.a.w. kepada Nabi Muhammad s.a.w. saya bercerita apa yang telah berlaku. Kata Nabi Muhammad s.a.w.:"Keengganan kamu mengeluarkan kata-kata kesat itu sudah kena pada tempatnya, tetapi untuk mengeluarkan penderitaan batinnya, kamu sekurang-kurangnya dapat berkata: "Semoga Allah s.w.t mengampuni kamu wahai Abu Bakar."
Begitulah takwa yang telah dipertunjukkan oleh Abu Bakar. Keengganannya menerima pembalasan dialam akhirat menyebabkan dia memaksa Rabiah Aslami supaya mengambil tindakan balas terhadapnya. Kekesalannya dan penderitaan batinnya akibat kesalahannya itu sedemikian rupa sehingga dia sanggup menceritakan segala-galanya kepada Nabi Muhammad s.a.w. dengan harapan Nabi Muhammad s.a.w. dapat menolong. Bagaimanakah pula perasaan kita, ummat Islam kini selepas melakukan kesalahan yang seperti diatas? Kita seringkali melakukan kesalahan tanpa perasaan takut akan pembalasan sama ada didunia atau pun diakhirat nanti.
CONTOH TAKWA YANG DITUNJUKKAN OLEH UMAR
Umar r.a.hu kerap memegang sehelai jerami sambil berkata: "Alangkah baiknya kalau aku dapat menjadi jerami seperti ini." Kadang-kala dia berkata: "Alangkah baiknya kalau aku tidak dilahirkan oleh ibuku!"
Pada suatu ketika Umar sedang sibuk dengan urusan yang penting. Tiba-tiba datang satu hamba Allah dengan satu pengaduan yang berkehendakkan pembetulan. Oleh Umar dicemetinya orang itu dibahagian bahunya. Umar berkata: "Bila aku duduk hendak menerima pengaduan engkau tidak datang tetapi bila aku sibuk dengan urusan penting engkau datang menggangui aku."
Tanpa berkata apa-apa orang itu pun meninggalkan Umar. Sejurus kemudian ia dibawa kehadapan Umar sekali lagi. Sambil mengunjukkan cemeti tadi padanya Umar berkata: "Pukullah aku sebagai membalas perbuatan tadi." "Kata orang itu: "Saya mengampuni awak kerana Allah s.w.t."
Kekesalan Umar tidak dapat dibayangkan. Dengan cepat dia kembali kerumahnya lalu mendirikan sembahyang sebanyak dua rakaat. Dia mengkritik dirinya sendiri seperti berikut: "Wahai Umar, dahulu kedudukanmu rendah tetapi kini telah ditinggikan oleh Allah s.w.t.. Dahulu kamu sesat tetapi kini telah dipimpin oleh Allah s.w.t. dan Dia telah memberi kamu kuasa keatas hamba-hambaNya. Apabila salah seorang daripada mereka datang untuk mendapat keadilan ia dipukul dan disakiti. Apakah alasan yang hendak kamu berikan dihadapan Allah s.w.t.?"
Soalan ini dihadapkan kepada dirinya bukan sekali malah beberapa kali. Pada suatu malam Umar sedang meronda disuatu tempat dipersekitaran kota Madinah dengan hambanya Aslam. Tiba-tiba kelihatan cahaya api tidak jauh dari tempat mereka berada. Dia berkata: "Nun ditengah-tengah padang pasir nampaknya ada khemah, mungkin kepunyaan suatu khalifah yang tidak dapat memasuki kota kerana kegelapan malam. Mari kita uruskan perlindungan mereka."
Setibanya mereka ditempat perkhemahan itu, yang kelihatan hanyalah seorang perempuan dengan beberapa orang anaknya. Si ibu tadi sedang menjerang secerek air, sambil memberi salam dia meminta izin untuk mendekatinya.
Umar: "Mengapa kanak-kanak ini menangis"
Perempuan: Kerana mereka lapar"
Umar: "Apa yang ada didalam cerek itu?"
Perempuan: "Hanya air untuk memperdayakan mereka supaya mereka tidur dengan sangkaan yang makanan sedang disediakan untuk mereka. Ah,Allah s.w.t. akan mengadili pengaduanku terhadap Umar pada hari kiamat nanti kerana membiarkan aku didalam keadaan begini."
Umar:(Menangis)"Semoga Allah s.w.t. mengampuni kamu tetapi bagaimanakah Umar hendak mengetahui tentang penderitaan kamu!"
Perempuan:"Orang yang menjadi Amir patut tahu akan keadaan setiap rakyatnya."
Umar balik kekota dan terus ke Baitulmal. Dia mengisikan sebuah karung dengan tepung, buah tamar, minyak dan kain baju. Dia mengeluarkan juga sedikit wang. Apabila karung tadi telah penuh Umar pun berkata kepada Aslam: "Letakkan karung ini keatas belakangku Aslam"
Aslam: "Tidak, tidak, ya Amirul Mu'minin! Biar saya yang memikulnya"
Umar: "Apa! Adakah engkau yang akan memikuli dosaku dihari kiamat kelak? Aku terpaksa memikulinya kerana akulah yang akan dipersoalkan nanti mengenai perempuan ini"
Dengan perasaan serba salah Aslam meletakkan karung itu diatas belakang Umar. Dengan diikuti oleh Aslam dia telah berjalan dengan pantas menuju khemah perempuan itu. Dia memasukkan sedikit tepung, buah tamar dan minyak kedalam cerek tadi lalu mengacaunya. Dia sendiri meniup bara untuk menyalakan api. Kata Aslam: "Saya melihat asap mengenai janggutnya"
Sebentar kemudian makanan itu pun siaplah. Umar sendiri menghidangkan kepada keluarga miskin itu. Selepas kenyang perut kanak-kanak itu, mereka pun bermainlah dengan gembiranya. Melihat keadaan anak-anaknya, perempuan itu pun berkata:"Semoga Allah s.w.t.memberi ganjaran kepada kamu kerana kebaikan hatimu. Sesungguhnya kamu lebih layak memegang jawatan khalifah daripada Umar." Umar melipurkan hati perempuan itu lalu berkata: " Apabila kamu datang berjumpa dengan khalifah, kamu akan menjumpai aku disana."
Setelah melihat kanak-kanak itu bermain beberapa ketika, Umar pun beredar dari situ. Dalam perjalanan pulang Umar telah bertanya kepada Aslam:"Kamu tahu tak mengapa aku duduk disitu beberapa ketika?"Aku ingin melihat mereka bermain-main dan gelak ketawa kerana kesukaan setelah melihat mereka menangis kelaparan."
Mengikut riwayat ketika mengerjakan solat fajar Umar sering membaca SURAH "KAHF, TAHA" dan lain-lain surah yang hampir-hampir sama dengan surah-surah itu. Waktu inilah dia kerap menangis sehingga tangisannya jelas kedengaran beberpa saf kebelakang. Pada suatu subuh ketika membaca ayat SURAH "YUSUF" yang bermaksud:
Hanya aku mengadukan kesusahanku dan kedukacitaanku kepada Allah.
(SURAH YUSUF-86)
Dia telah menangis teresak-esak sehingga tidak dapat meneruskan pembacaannya.
Wahai kaum muslimin, kisah-kisah Umar yang baru saja diceritakan sepatutnya dijadikan bahan rujukan oleh kita bersama. Umar diketahui umum merupakan kesatriaan Islam yang terkenal kerana gagah beraninya. Namanya saja sudah dapat mengecutkan perut pemusuh-pemusuh Islam. Namun demikian dihadapan Allah s.w.t. dia menangis ketakutan. Dimanakah seorang Raja atau Pemimpin negara yang bersedia menunjukkan belas rahimnya kepada seorang hamba rakyatnya yang hina seperti mana yang telah ditunjukkan oleh Umar? Demikianlah kesucian, kemurnian dan ketinggian sopan santun yang dikehendaki oleh Islam, Agama yang kita semua akui sebagai penganut-penganutnya.
TEGURAN OLEH ABDULLAH BIN ABBAS
Diceritakan oleh Wahab bin Munabbah:
"Abdullah bin Abbas telah kehilangan penglihatannya semasa ia telah tua. Pada suatu hari aku telah memimpininya ke Masjidil Haram. Disana ia telah menedengar beberapa orang sedang bertengkar dengan suara yang lantang. Dia meminta supaya aku membawanya kehadapan mereka. Dia pun memberi salam kepada mereka, selepas membalas salamnya mereka mempersilakan ia duduk sambil melahirkan keengganannya berbuat demiakian, dia pun berkata:
"Izinkan aku menceritakan darihal hamba-hamba Allah s.w.t. yang sebenar-benarnya. Mereka adalah manusia yang tidak ingin berkata-kata kerana takutkan Allah s.w.t... Sungguhpun mereka tidak bisu dan sebaliknya dapat menggunakan bahasa dengan fasihnya tetapi oleh kerana selalu memuji-muji Allah s.w.t.. maka mereka tidak dapat memperkatakan sesuatu yang sia-sia. Apabila mereka tiba keperingkat keimanan yang demikian rupa maka mereka segera kearah kebaikan. Mengapakah kamu sekelian telah menyeleweng dari jalan ini? Selepas peristiwa ini aku tidak melihat manusia berkumpul di Masjidil Haram."
Kisah Abdullah bin Abbas ini menunjukkan kepada kita suatu jalan yang sebaik-baiknya untuk mencapai kebaikan. Caranya ialah dengan memikirkan tentang kebesaran Allah s.w.t. Kalau ini dapat dilakukan maka lain-lain perbuatan yang baik dapat dilakukan juga dengan senang dan penuh kejujuran.
GERAKAN BALA TENTERA MUSLIMIN KE TABUK
Sampai pula berita kepada Nabi Muhammad s.a.w. bahawa tentera Rumawi sedang berkumpul hendak datang menyerang. Tanpa membuang masaNabi Muhammad s.a.w. telah mengerahkan kaum Muslimin untuk menyiapkan segala alat kelengkapan berperang. Kebetulan pada masa itu orang sedang menghadapi musim kemarau yang dahsyat. Oleh kerana tentera musuh yang bakal dihadapi itu besar dan kemungkinan mengalami berjenis-jenis kesukaran itu banyak. Orang-orang mewah dan agak berada serta senang hidupnya, Nabi Muhammad s.a.w.. galakkan menghulurkan pertolongan membekalkan mereka yang susah
Pada masa itu Abu Bakat r.a.hu telah mendermakan segala hartanya. Apabila ditanya apa yang tinggal kepada keluarganya, ia menjawab:"Aku tinggalkan Allah s.w.t. dan RasulNya kepada mereka."
Umar r.a.hu telah mendermakan separuh dari harta kekayaannya sedangkan Usman r.a.hu telah membekalkan alat kelengkapan perperangan untuk sepertiga daripada semua tentera Muslimin. Tiap-tiap sepuluh orang askar dibekalkan dengan seekor unta sahaja disebabkan kekurangan binatang ini. Oleh sebab inilah maka gerakan ketenteraan ini dinamakan "KEMPEN KEPICIKAN".
Tentera-tentera Muslimin terpaksa berjalan jauh dalam cuaca panas terik membakar ketempat yang ditujui. Kebetulan pada masa itu kebun-kebun mereka penuh dengan buah-buah tamar yang telah masak. Ini merupakan ujian Allah s.w.t. terhadap mereka. Tiba-tiba mereka diseru untuk menghadapi musuh yang paling gagah sebagai menguji keimanan mereka. Natijah keimanan mereka yang teguh inilah maka mereka tidak ingin ditinggalkan diMadinah kecuali kaum wanita, kanak-kanak, orang-orang munafik dan mereka yang tidak ada kenderaan. Ada diantara mereka yang menangis-nangis kerana tidak dapat menyertai Nabi Muhammad s.a.w. dan tentera-tentera Muslimin yang lain. Mengenai orang-orang ini Allah s.w.t. telah berfirman yang bermaksud:
"MEREKA BERPALING SEDANG MATA MEREKA MENGALIR AIRMATA KERANA SEDIH YANG MEREKA TIDAK ADA KEMAMPUAN YANG BOLEH MEREKA BELANJAKAN"
Diantara mereka-mereka yang beriman hanya tiga orang sahaja yang tidak menyertai tentera Muslimin tanpa sebarang alasan.(Kisah mereka akan dibentangkan sekejap lagi).
Sementara itu dalam perjalan para tentera Muslimin keTabuk, tentera Muslimin telah sampai ke perkampungan Thamud. Disini Nabi Muhammad s.a.w. telah menutupi wajahnya sambil mempercepatkan perjalanannya. Nabi Muhammad s.a.w. memerintahkan supaya para sahabatnya berbuat demikian juga. Nabi Muhammad s.a.w. menasihatikan mereka supaya menangis dan takutkan penyiksaan Allah s.w.t. agar Allah s.w.t. tidak mengenakan siksaan keatas mereka seperti mana yang dikenakan keatas Thamud.
Lihatlah sikap yang dipertunjukkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. dan para sahabatnya ketika melalui perkampungan Thamud yang telah dibinasakan oleh Allah s.w.t. Beginilah pula sikap yang seharusnya dimiliki oleh kita, tetapi kebanyakkan kita tidak merasa sedih atau takut apabila menghadapi sesuatu malapetaka atau bencana alam. Sebaliknya kita mengadakan pesta keramaian ditempat berlakunya sesuatu kecelakaan itu
KISAH TIGA ORANG MUKMIN YANG TIDAK MENYERTAI NABI KE TABUK
Diantara puak munafikin jumlah yang tidak menyertai gerakan keTabuk boleh dikatakan banyak juga. Bukan sahaja mereka gagal menyahut seruan Nabi Muhammad s.a.w. malah mereka cuba mempengaruhi orang-orang lain supaya berbuat demikian.
Kata mereka: "Janganlah berpergian dalam keadaan panas" (SURAH AT-TAUBAH ayat 81)
Allah s.w.t. menjawab: "API NERAKA LEBIH PANAS LAGI"
Diantara orang-orang yang beriman pula seperti mana yang telah dikatakan tadi, hanya tiga orang sahaja yang tidak menyertai tentera Muslimin. Mereka ini ialah Murarak bin Rabi, Hilal bin Umayyah dan Ka'ab bin Malik. Murarah tidak bersama-sama Nabi Muhammad s.a.w. dan sahabatnya kerana buah-buah tamar dikebunnya telah masak dan terpaksa dikutip. Dia menyangka yang penyertaannya dalam lain-lain peperangan terdahulu daripada ini dapat melepaskan dirinya daripada peperangan yang sedang dihadapi. Disini dia telah melakukan kesalahan mementingkan hartanya daripada Allah s.w.t.. Apabila dia menyedari kesalahannya dia mendermakan kebunnya kepada orang. Akan Hilal pula dia sibuk mendampingi kaum keluarganya yang pulang ke Madinah selepas meninggalkan kota itu beberapa ketika lamanya. Seperti Murarah, dia juga telah menyertai beberapa peperangan yang terdahulu.Ternyata yang Hilal telah melakukan kesalahan mementingkan kaum keluarga nya daripadaAllah s.w.t.. Setelah menyedari kesalahannya dia telah emmutuskan perhubungan dengan kaum kerabatnya. Mengenai Ka'ab pula, dengarlah cerita seperti yang diceritakan olehnya sendiri. Cerita Ka'ab ini terkandung didalam semua buku-buku Hadis. Katanya:
"Semasa berlaku gerakan keTabuk keadaan hidup aku agak mewah.Aku mempunyai dua ekor unta kepunyaan saya sendiri. Sebelum ini saya tidak pernah memiliki bilangan unta seperti tersebut tadi. Telah menjadi amalan Nabi Muhammad s.a.w. yang ia tidak suka memberitahu kepada umum tentang tempat yang ditujui oleh gerakan tentera Muslimin, tetapi sekali ini oleh kerana jauhnya perjalanan yang mensti ditempuhi, kerana musim kemarau pada masa itu dan oleh kerana kekuatan tentara kafir, ia terpaksa menceritakan segala-galanya agar persiapan-persiapan dapat diperbuat dengan sempurnanya. Orang-orang yang bakal memnyertai pergerakan keTabuk terlalu banyak sehingga tidak mungkin diketahui nama-nama mereka semuanya. Demikian juga payahnya untuk mengetahui nama-nama meraka yang tidak menyertai Nabi Muhammad s.a.w.. Pada ketika itu kebun-kebun diMadinah telah penuh dengan buah-buah yang telah masak.Tiap-tiap pagi saya bercita-cita hendak membuat persiapan-persiapan agar dapat menyertai tentera Muslimin, tetapi entah bagaimana keazaman saya itu tidak menjadi kenyataan. Saya ketahui benar-benar yang saya dapat menyertai mereka bila-bila masa sahaja. Dalam keadaan saya yang demikianlah maka berita mengenai keberangkatan tentera Muslim telah sampai kepengetahuan saya. Saya masih berpendapat yang saya mendahului mereka sekiranya saya dapat bersiap sedia dalam sehari-dua."
"Penangguhan saya untuk melakukan sesuatu yang tegas berlanjutan sehingga tibalah masanya tentera-tentera Muslimin hampir tiba diTabuk. Dalam keadaan yang demikian pun saya masih juga menangguh-nangguh.Tiba-tiba apabila saya melihat orang-orang yang tertinggal diMadinah saya menyedari yang kebanyakkan daripada mereka ini terdiri daripada kaum-kaum munafikin dan mereka yang telah sengaja diuzurkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. kerana sebab-sebab yang tertentu. Setibanya Nabi Muhammad s.a.w. keTabuk, Baginda s.a.w. pun bertanya: 'Mengapa aku tidak melihat Ka'ab?" Jawab salah seorang daripada para sahabat: " Ya Nabi Muhammad s.a.w., kebanggaannya kepada harta dan kesenangan kehidupannya telah menyebabkan dia tertinggal kebelakang.' Maaz mencelah sambil berkata:"Tidak, Ini tidak mungkin. Setahu kami dia adalah seorang Mukmin yang sebenar-benarnya." Nabi Muhammad s.a.w. tidak mengeluarkan sepatah katapun."
Ka'ab meneruskan ceritanya:
"Selepas beberapa hari saya pun mendengar berita mengenai kepulangan Nabi Muhammad s.a.w. saya tiba-tiba dirundungi oleh perasaan sedih dan kesal yang maha hebat. Beberapa alasan iaitu yang mungkin dikemukakan kepada Nabi Muhammad s.a.w. mengelakkan kemurkaan Baginda s.a.w. terbayang-bayang dikepala saya. Saya juga telah meminta nasihat daripada orang-orang yang cerdik pandai dikalangan keluarga saya, tetapi akhirnya alasan-alasan ini saya ketepikan dan saya membuat keputusan hendak bercakap benar kepada Nabi Muhammad s.a.w.Telah menjadi kebiasaan Rasulullah s.a.w.., apabila Baginda s.a.w.balik dari suatu perjalanan Nabi Muhammad s.a.w. akan singgah dimasjid untuk mendirikan Solat Tahyatul Masjid serta beramah mesra dengan pelawat-pelawatnya. Pada ketika ini datanglah orang munafik bersumpah-sumpah sambil memberi sebab-sebab mengapa mereka tidak menyertai Nabi Muhammad s.a.w. keTabuk. Nabi Muhammad s.a.w.menerima saja alasan-alasan yang diucapkan oelh lidah-lidah mereka sedangkan kandungan batin mereka tinggalkan kepada Allah s.w.t.untuk membereskannya. Kemudian saya pun tibalah untuk menemui Rasulullah s.a.w. lantas memberi salam kepada Baginda s.a.w.. Suatu senyuman yang tawar, Baginda s.a.w. menolehkan mukanya kearah lain. Saya berkata:" Wahai Rasulullah ,Tuan memalingkan muka Tuan dari saya.Demi Allah s.w.t., saya bukannya munafik dan saya tidak meragui kebenaran agama saya." Baginda s.a.w. menyuruh saya mendekati lalu bertanya: "Apa yang menghalangi kamu? Bukankah kamu telah membeli unta?" Saya menjawab: "Ya Rasulullah s.a.w., kalau kepada orang lain sudah tentu saya dapat memberi alasan-alasan yang sesuai kerana Allah s.w.t. telah mengurniakan saya dengan kefasihan bercakap, tetapi kepada Tuan, walaupun saya dapat memberi keterangan-keterangan dusta yang memuaskan hati Tuan, sudah tentu Allah s.w.t. akan memurkai saya. Sebaliknya kalau saya menimbulkan kemarahan Tuan dengan bercakap benar saya percaya lambat-laun kemarahan Tuan itu akan dihapuskan oleh Allah s.w.t. . Oleh itu saya bercakap benar. Demi Allah s.w.t. saya tidak ada sebarang alasan pun sedangkan pada masa itu hidup saya mewah." Kata Nabi Muhammad s.a.w."Dia sedang bercakap benar." Kemudian Baginda s.a.w berkata: "Pergilah kamu dan Allah s.w.t.. akan menentukan sesuatu bagi kamu."
Apabila saya meninggalkan Nabi Muhammad s.a.w.. orang-orang dari puak saya telah menyalahi saya kerana telah bercakap benar dihadapan Rasulullah. Kata mereka: Kamu sebelum ini tidak pernah melakukan sebarang kesalahan . Kalaulah setelah memberi satu-satu alasan yang sesuai, kamu meminta Nabi Muhammad s.a.w. berdoa untuk diampunkan oleh Allah s.w.t., yang demikian itu sudah tentu mencukupi. "Kemudian saya bertanya kalau-kalau ada orang yang hal keadaannya seperti saya. Mereka menceritakan mengenai Hilah bin Umayyah dan Murarah bin Rabi. Mereka juga telah mengakui kesalahan mereka dan menerima jawapan yang sama. Saya tahui yang mereka ini adalah penganut-penganut agama Islam yang sejati dan telah mengambil bahagian dalam Peperangan Badar. Nabi Muhammad s.a.w. sudah memerintahkan supaya kami bertiga dipulaukan.Tidak ada seorang pun yang berani bergaul dan bercakap-cakap dengan kami. Pada masa itu saya berasa seolah-olah saya tinggal berdagang dirantau orang. Kawan-kawan berkelakuan seperti orang asing. Dunia yang begitu luas menjadi sempit. Kalau saya mati Nabi Muhammad s.a.w. tidak akan mengimami sembahyang jenazah saya. Sebaliknya kalau Baginda s.a.w. wafat sudah tentu pemboikotan yang dikenakan keatas saya akan berterusan sehingga keakhir hayat saya. Kawan-kawan saya yang berdua itu tidak menampakkan diri mereka diluar rumah sedangkan saya memberanikan diri dengan berjalan-jalan dipasar dan bersembahyang berjemaah tetapi saya tidak dihiraukan oleh sesiapa pun. Kadang-kadang saya memberanikan diri menghampiri Nabi Muhammad s.a.w. sambil memberikan salam. Saya menunggu-nuggu jawapannya dengan penuh harapan.Kerapkali selepas menunaikan solat fardhu saya akan menunaikan solat sunnat berhampiran dengan Nabi Muhammad s.a.w. kerana ingin mengetahui sama ada Baginda s.a.w. akan memandang saya atau tidak. Ya, Baginda s.a.w. memandangkan saya semasa berada dalam sembahyang. Diluar sembahyang Baginda s.a.w. memalingkan pandangannya dari saya."
"Pada suatu hari apabila saya rasa yang saya tidak dapat lagi menderitai pemulauan sosial yang dikenakan keatas saya, saya telah memanjat tembok kebun sepupu saya,Qatadah. Saya mengucapkan salam kepadanya tetapi dia tidak menjawab. Saya menggesanya supaya menjawab hanya satu soalan sahaja. Saya bertanya:"Engkau tahu atau tidak yang aku mencintai Allah s.w.t. dan RasulNya?" Soalan saya itu terpaksa diulangi sebanyak tiga kali. Pada kali yang ketiganya baharulah dia menjawab:" Hanya Allah s.w.t.dan RasulNya yang mengetahui." Mendengar jawapannya itu saya menangis lalu meninggalkannya."
"Pada suatu ketika sedang saya melalui sebatang jalan di Madinah, saya terpandang akan seorang Kriastian bangsa Mesir yang telah datang dari Sham. Rupa-rupanya orang itu sedang mencari saya. Apabila orang ramai disitu menunjukkan saya dia pun menghampiri saya sambil menyerahkan sepucuk surat daripada Raja Keristian yang memerintah Ghassan. Surat itu berbunyi:" Kami telah mengetahui akan penganiayaan yang kamu perolehi dari ketua kamu. Allah s.w.t. tidak akan membiarkan kamu dalam keadaan hina dan malu. Eloklah kamu menyertai kami dan kami akan memberi segala pertolongan kepada kamu." Apabila saya membaca surat ini saya mengucapkan:"INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJIUN." Demikianlah hal keadaan saya sehingga orang-orang kafir menyangka yang saya akan murtad. Saya tidak dapat membayangkan segala kecelakaan yang menimpa diri saya. Dengan serta merta saya mencampakkan surat itu kedalam api dan saya pun terus pergi berjumpa dengan Nabi Muhammad s.a.w. Kata saya:"Ya Rasulullah s.a.w., saya telah tergelincir didalam jurang kehinaan yang amat dahsyat sehinggakan orang-orang kafir menyangka yang saya akan murtad."
"Selepas empat puluh hari pemboikotan itu berjalan seorang utusan Nabi Muhammad s.a.w. mendatangi saya dengan membawa satu perintah baru dari Nabi Muhammad s.a.w. Saya diperintahkan supaya berpisah dari isteri saya. Saya bertanya kepada utusan itu sama ada isteri saya terpaksa diceraikan. Dia hanya menmyuruh saya berpsah dari isteri saya. Perintah yang sama diberikan kepada sahabat-sahabat yg berdua itu. Kata saya kepada isteri saya:"Pergilah kamu tinggal bersama-sama orangtuamu sehingga Allah s.w.t. menetukan sesuatu bagiku." Isteri Hilal pun telah pergi berjumpa dengan Nabi Muhammad s.a.w. sambil mengadu kepada Baginda s.a.w :"Ya Rasulllah,Hilal sudah tua dan tidak ada orang untuk menjaganya. Kalau aku meninggalkannya sudah tentu dia akan mati. Izinkan aku supaya menjagainya."Nabi Muhammad s.a.w. menjawab: "Baiklah tetapi jangan melakukan perhubungan jenis." Kata isteri Hilal:"Ya Rasulullah ,dia sudah tidak ada keinginan semenjak pemulauan dikenakan keatasnya. Dia menghabiskan masanya dengan menangis."
Ada orang yang mecadangkan kepada saya supaya meminta kebenaran daripada Nabi Muhammad s.a.w. untuk membolehkan isteri saya tinggal bersama-sama saya tetapi saya enggan berbuat demikian kerana saya masih muda sedangkan Hilal sudah tua. Lagi pula saya tidak berani membuat permintaan yang demikian. Sehingga ini pemulauan telah dijalankan keatas kami selama lima puluh hari.
Pada pagi yang kelima puluh itu sedang saya duduk-duduk diatas bumbung rumah saya, setelah melakukan Solat Faja, saya terdengar orang menjerit dari kemuncak bukit Salak. "Ada berita gembira buat kamu ya Ka'ab." Sebaik sahaja saya mendengar berita itu saya pun bersujud dengan gembiranya sambil mengucapkan syukur kepada Allah s.w.t.. Saya tahu yang saya telah perolehi keampunan daripada Allah s.w.t..Sebenarnya Nabi Muhammad s.a.w. mengistiharkan keampunan Allah s.w.t. kepada kami bertiga selepas solat Subuh itu.Kemudian datang pula seorang penunggang kuda membawa berita yang sama. Oleh kerana kegembiraan yang amat sangat saya telah menghadiahkan pakaian yang terlekat dibadan saya kepada pembawa berita gembira itu.Pada masa itu saya hanyai miliki pakaian yang sedang saya pakai tadi. Oleh hal yang demikian saya meminjam sehelai pakaian dari sahabat saya dan memakai pakaian itu dan saya terus pergi berjumpa dengan Rasulullah s.a.w.. Apabila saya tiba dimasjid orang-orang yang sedang berbual-buak dengan Rasulullah s.a.w. datang menerpa dan memegang tangan saya sambil mengucapkan tahniah. Orang yang mula-mula mengucapkan tahniah kepada saya ialah Talhah.Kemudian saya pun menyampaikan salam kepadaNabi Muhammad s.a.w. . Muka Baginda s.a.w. berseri-seri dengan cahaya kegembiraan. Saya berkata kepada Baginda s.a.w. :"Ya Rasulullah, saya bercadang hendak mendermakan semua harta saya sebagai mengucapkan syukur kepada Allah s.w.t. yang telah sudi menerima taubat saya."Baginda s.a.w.. berkata: "Janganlah habiskan semua harta kamu. Tinggalkan sedikit untuk kepentingan dirimu." Saya pun mendermakan harta saya kecuali rampasan yang diperolehi dalam Peperangan Khaibar."
"Kebenaran telah menyelamatkan saya dan oleh itu saya berazam hendak bercakap benar pada setiap masa."
Kisah diatas dengan jelas menunjukkan sifat-sifat yang sepatutnya terdapat pada semua penganut-penganut Islam yang bernar-benar beriman.
1) Pentingnya berusaha dijalan Allah s.w.t. Orang yang selama ini telah mematuhi segala perintah Allah s.w.t. dan yang telah menyertai semua peperangan menetang musuh pun terpaksa menanggung penderitaan akibat kesalahan yang dilakukan hanya sekali sahaja.
2) Kepatuhan menjunjung perintah Nabi Muhammad s.a.w. Selama lima puluh hari masyarakat Islam termasuk kaum kerabat dan sanak saudara serta sabahat handai mereka sendiri telah memulau Ka'ab dan kawan-kawannya pula telah menjalani hukuman dengan pebuh ketaatan. Dengan lain-lain perkataan, yang memulau pada suatu pihak dan yang kena pulau disuatu pihak yang lain masing-masing mematuhi arahan Nabi Muhammad s.a.w.
3) Keimanan yang teguh Ka'ab telah menerima surat dari seorang raj Kristian yang cuba mempengaruhinya supaya melakukan kemungkaran. Perkataan-perkataan dan perbuatannya selepas menerima surat itu merupakan bukti yang nyata mengenai keteguhan imannya.
Sekarang marilah kita memeriksa perbadi kita sendiri untuk menentukan banyak atau sedikitnya kepatuhan yang terdapat pada diri kita. Adakah kita mematuhi segala perintah-perintah Allah s.w.t.? Adakah kita mendirikan sembahyang- Perintah Allah s.w.t. yang paling sedikit memakan belanja? Adakah kita berasa sedih apabila meninggalkannya?
NABI MUHAMMAD S.A.W. MEMARAHI SAHABAT-SAHABAT YANG KETAWA
Pada suatu ketika apabila Nabi Muhammad s.a.w. sampai kemasjid untuk mendirikan solat, Baginda s.a.w. dapati beberapa orang sahabat sedang gelak ketawa. Baginda s.a.w. berkata: "Kalau kamu selalu mengingati maut sudah tentu aku tidak mendapati kamu semua dalam keadaan demikian. Pada setiap masa kamu hidup kamu mesti mengingati maut. Setiap waktu tanah perkuburan memekik mengatakan:' Aku ini merupakan semak samun. Aku dipenuhi dengan debu. Aku ini penuh dengan serangga. '
Apabila seorang mukmin dikebumikan didalamnya, bumi berkata 'Aku ucapkan selamat datang kepada mu. Diantara manusia yang bertebaran atas muka bumi ini, engkaulah yang paling aku sukai. Baik sungguh hatimu kerana mahu memasuki ku. Sekarang lihatlah bagaimana aku menghiburkan hatimu?'
Kemudian bumi membesar sejauh mata memandang. Sebuah pintu syurga terbuka dihadapannya. Melalui pintu inilah bau-bauan yang semarak harumnya menyusupi lubang hidungnya.
Tetapi apabila seorang yang jahat dimasukkan kedalamnya, bumi akan berkata:'Tidak ada kata alu-aluan buatmu. Diantara manusia yang hidup didunia, engkaulah yang paling aku benci. Sekarang lihatlah layanan aku terhadapmu.'
Kemudian ia dihimpit oleh bumi sehingga tulang-tulang rusuknya saling bertikam tikaman dan berselisih antara satu sama lain. Sebanyak tujuh puluh ekor ular akan mematuknya sehingga hari kiamat.Ular-ular ini terlalu berbisa hinggakan kalau seekor sahaja menyemburkan bisanya dipermukaan bumi maka sehelai rumput pun tidak akan tumbuh.Kemudian Nbi Muhammad s.a.w berkata: "Kubur boleh merupakan syurga ataupun neraka."
Sifat takut kepada Allah s.w.t. pasti terdapat pada manusia yang benar-benar beriman. Sifat takut ini dapat diwujudkan dan dipupuk sehingga ia tumbuh dengan suburnya kalau kita dalam kehidupan kita sehari-hari dapat mengingati akan MATI !!!
TAKUTNYA NIFAK YANG DIPERTUNJUKKAN OLEH HANZLAH
"Kami berhadapan dengan Nabi Muhammad s.a.w.. apabila Baginda s.a.w. berkhutbah pada suatu hari. Kutbah Baginda s.a.w..menakutkan hati kami. Kami mencucuri airmata mengenangkan keadaan kami pada masa itu, kemudian saya pun kembali kerumah menemui anak dan isteri saya. Ditengah-tengah kesibukan kami sekeluarga, kesan kuthbah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad s.a.w. sebentar tadi semakin hilang. Saya menyedari yang keadaan saya telah berubah. Kalau tadi saya berdukacita kini saya berasa gembira.Tiba-tiba saya berkata didalam hati saya:"Oh Hanzlah, engkau ini seorang munafik." Perasaan hiba yang menyelubungi fikiran saya yang tidak dapat dibayangkan. Saya meninggalkan rumah saya sambil berkata: "Hanzlah telah menjadi seorang munfik." Apabila saya menemui Abu Bakar saya meneruskan kata-kata saya tadi. Katanya: "Subhanallah! Apa yang kamu katakan ini. Hanzlah tidak mungkin menjadi seorang munafik."
Saya menceritakan segala-galanya kepadanya. Kata saya:"Semasa kita mendengar kutbah Nabi Muhammad s.a.w. tadi terasa oleh kita bahawa syurga dan neraka seolah-olah berada dihadapan kita, tetapi apabila balik bertemu dengan keluarga kita dirumah, kita melupakan kampung akhirat." Kata Abu Bakar: "Ya, keadaan aku pun demikian juga." Kemudian kami bersama-sama menuju ketempat kediaman Nabi Muhammad s.a.w.
Kata saya kepada Nabi Muhammad s.a.w.:"Ya Rasulullah, saya telah menjadi munafik." Setelah mendengar penjelasan saya Nabi Muhammad s.a.w..:"Demi Allah , yang jiwaku ditanganNya, seandainya kamu dapat memeliharakan selama-lamanya keghairahan yang diwujudkan dalam sanubari kamu semasa berada disisiku, sudah tentu para malaikat akan mengucap selamat kepadamu semasa kamu berjalan dan semasa kamu tidur, tetapi wahai Hanzlah, ini adalah satu perkara yang jarang-jarang berlaku."
Menurut pendapat Nabi Muhammad s.a.w. walau bagaimanapun teguhnya keimanan seseorang, dia tidak dapat menumpukan segala tenaganya terhadap urusan 'Ukhrawinya' semata-mata kerana sebagai seorang manusia dia terpaksa bertanggung jawab terhadap urusan-urusan'Duniawi' yang lain. Walaupun ada manusia yang boleh berbuat demikian sudah tentu bilangan mereka itu terlalu kecil. Namun demikian, kita hendaklah memupukkan perasaan yang akan membolehkan kita sentiasa mencurigai tentang keteguhan iman kita sepertimana yang telah dipertunjukkan oleh sahabat Hanzlah.
GERAKAN TENTERA AL-AMBAR
Nabi Muhammad s.a.w. telah mengerahkan satu ketumbukan tentera Muslimin yang terdiri daripada tiga ratus orang. Tentera yang diarahkan kesebuah tempat berdekatan dengan pantai diketuai oleh Abu Ubaidah. Nabi Muhammad s.a.w. telah memberi sekarung buah tamar sebagai bekalan makanan mereka. Belum pun genap lima belas hari, makanan yang mereka bawa telah kehabisan. Qais r.a.hu sebagai usaha kearah mengelakkan daripada kelaparan telah membeli tiga ekor unta tiap-tiap hari daripada orang-orangnya sendiri untuk menjadi hidangan paramujahid sekelian. Ini bermakna yang alat pengakutan mereka semakin berkurangan tiap-tiap hari. Abu Ubaidah telah mengarahkan supaya penyembelihan unta dihentikan dengan serta merta. Dia mengumpulkan buah tamar yang masih ada pada tiap-tiap seorang lalu menyimpannya didalam sebuah bekas. buah-buah ini lah dicatukan sebanyak sebiji kepada seorang, tiap-tiap hari. Apabila Jabir r.a.hu menceritakan kisah ini kepada orang, salah seorang daripada pendengar-pendengarnya telah bertanya: "Bagaimana kamu hidup sehari suntuk dengan sebiji kurma?" Jabir r.a.hu menjawab:" Setelah beberapa lama yang sebiji itu pun tidak diperolehi. Kami telah mendekati pinggir kbuluran. Kami terpaksa menyirami daun-daun kayu dengan air dan kemudian memakannya."
Tiba-tiba Allah s.w.t. seperti biasa telah mencucuri rahmatNya keatas orang yang tahan penderitaan. Seekor ikan besar yang bernama AMBAR telah terlempar dari laut lalu jatuh keatas pantai.Ikan itulah yang menjadi makanan mereka selama lapan belas hari. Yang bakinya dibuat bekalan dalam perjalanan mereka balik keMadinah. Apabila peristiwa ini diceritakan kepada Nabi Muhammad s.a.w., Baginda s.a.w. berkata: "Ikan itu ialah bekalan yang dikurniakan oleh Allah s.w.t. untuk kamu semua." Nabi Muhammad s.a.w. telah bersabda: "Penderitaan yang paling pahit disediakan kepada para Nabi dan kemudian kepada mereka-mereka yang paling baik dikalangan Muslimin lainnya."
Kesusahan dan pederitaan hidup adalah perkara biasa dalam kehidupan manusia sehari-hari. Kepada orang yang mempercayai Allah s.w.t. kesusahan merupakan suatu ujianNya. Ujian yang dihadapkan kepada seseorang insan itu seimbang dengan kedudukannya disisi Allah s.w.t.Paling dekat dengan Allah s.w.t.., paling dahsyatlah ujian yang bakal diteimanya. Orang yang lulus ujianNya akhirnya menerima rahmat keselesaan hidup dan ketenteraman jiwa dari sisiNya.

